Oleh: Dwi Hartoyo dari Paralegal LBH Adil Bangsa Yustisia
Selasa, 06 Januari 2026
Kesalahan paling mendasar yang kerap terjadi pada sebagian pemegang amanah hari ini adalah kekeliruan memahami posisi dirinya sendiri. Ia merasa sebagai penguasa, padahal hakikatnya adalah pelayan. Ia lupa bahwa amanah bukan tiket untuk dilayani, melainkan kewajiban untuk melayani sesuai tugas pokok dan fungsi yang telah digariskan.
Jabatan seharusnya melahirkan tanggung jawab, bukan jarak. Namun yang sering terlihat justru sebaliknya: semakin tinggi posisi, semakin jauh dari rasa tanggung jawab. Pelayanan perlahan berubah menjadi rutinitas kosong, dikerjakan sekadar menggugurkan kewajiban, bukan sebagai bentuk pengabdian.
Ironisnya, di tengah era digitalisasi yang menjanjikan efisiensi dan transparansi, sebagian justru kehilangan marwah. Teknologi yang semestinya mempercepat pelayanan berubah menjadi candu popularitas. Kamera lebih sering menyala daripada kepekaan sosial. Sorotan layar terasa lebih penting daripada keluhan masyarakat.
Faktanya, di jam kerja yang dibayar oleh uang rakyat, ada yang sibuk menelusuri media sosial tanpa urgensi kerja. Ada yang berjoget, bernyanyi, dan tertawa seolah lupa bahwa waktu itu bukan milik pribadi.
Hehe… kadang memang mengundang senyum getir.
Kok bisa, ya?
Masalahnya bukan pada bercanda atau berekspresi. Masalahnya adalah hilangnya kesadaran akan ruang dan waktu. Disiplin bukan soal kaku, melainkan soal tahu diri. Taat aturan bukan bentuk pengekangan, melainkan wujud penghormatan terhadap amanah.
Tulisan ini bukan tudingan, apalagi vonis. Ini adalah cermin. Cermin bagi siapa pun yang hari ini dipercaya memegang amanah publik. Tidak ditujukan kepada individu, instansi, atau profesi tertentu, serta tidak bermaksud menggeneralisasi semua pihak. Jika ada yang merasa tersentil, barangkali karena cermin itu memantulkan kenyataan.
Sebab ketika kepentingan pribadi dibiarkan mengalahkan aturan, yang lahir bukan sekadar pelanggaran, melainkan kerugian bagi orang lain. Amanah yang diabaikan hari ini adalah ketidakadilan yang diwariskan esok hari. Dan pada akhirnya, sejarah selalu mencatat: siapa yang menjaga amanah, dan siapa yang menyia-nyiakannya.



