Jagat media sosial diguncang oleh beredarnya sebuah teks yang diklaim sebagai pidato Mojtaba Khamenei dari Teheran. Narasi tersebut sarat seruan persatuan umat Islam dunia, membakar emosi dengan diksi perjuangan, syuhada dan pembebasan Palestina.
Namun di balik gaung yang menggema, fakta justru berkata lain.
Penelusuran menunjukkan tidak ada satu pun sumber resmi, baik dari pemerintah Iran, kantor berita internasional, maupun kanal komunikasi terpercaya yang mengonfirmasi adanya pidato tersebut. Tidak ada rekaman video, tidak ada dokumentasi acara, bahkan tidak ada tanggal dan forum yang jelas.
Nama Mojtaba Khamenei sendiri selama ini dikenal tertutup dari sorotan publik. Berbeda dengan ayahnya, Ali Khamenei, ia hampir tidak pernah tampil dalam pidato terbuka berskala global.
Lalu muncul pertanyaan besar: dari mana asal narasi ini?
Pengamat menilai teks tersebut memiliki ciri kuat sebagai produk propaganda digital. Pola bahasanya emosional, repetitif dan dirancang untuk membakar solidaritas lintas batas. Bahkan, sejumlah kata dalam teks sengaja dimodifikasi seperti “d4r4h”, “senj4ta”, hingga “t3mpur”, teknik umum untuk menghindari sistem moderasi platform digital.
Lebih jauh, narasi ini tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi berpotensi membentuk opini publik secara masif tanpa dasar fakta yang jelas. Inilah yang membuatnya berbahaya.
Fenomena ini menjadi alarm keras di era banjir informasi: tidak semua yang viral adalah kebenaran. Justru, semakin menggugah emosi sebuah konten, semakin besar kemungkinan ia dirancang untuk mempengaruhi, bukan memberi fakta.
Masyarakat diminta tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Saring sebelum sharing bukan lagi sekadar slogan, tetapi keharusan.
Di tengah derasnya arus propaganda digital, sikap kritis adalah benteng terakhir agar publik tidak terseret dalam narasi yang belum tentu nyata.


