“Sehat yang Terlupa, Sakit yang Menyadarkan”

Oleh: Hartoyo Dwi

Senin, 30 Maret 2026

 

Mereka yang terbaring sakit hari ini, tidak meminta banyak pada hidup, hanya satu harapan yang terus dipeluk dalam doa:

kesembuhan… agar bisa kembali menjalani kebaikan yang dulu mungkin terasa biasa saja.

 

Namun di sisi lain, banyak yang berdiri tegak dalam keadaan sehat, justru berjalan tanpa arah, lalai dalam nikmat dan jauh dari makna hidup yang sesungguhnya.

 

Sehat yang tak disyukuri, perlahan menjelma menjadi kelalaian.

Ia membuat manusia lupa, bahwa tubuh ini bukan milik selamanya.

Sedangkan sakit, meski terasa pahit, seringkali menjadi jalan pulang bagi hati yang lama tersesat.

 

Rumah sakit seharusnya bukan sekadar tempat berobat, melainkan cermin kehidupan bahwa sehat bisa pergi kapan saja dan sakit datang tanpa permisi.

 

Kuburan pun bukan hanya tanah sunyi, melainkan pengingat paling jujur bahwa hidup ini singkat dan waktu tak pernah menunggu kesiapan kita.

 

Namun manusia seringkali menutup mata, menolak sadar dan memilih bertahan dalam ego yang pada akhirnya menyesatkan dirinya sendiri.

 

Sadarilah… jagalah diri sebelum semuanya terlambat!!.

Karena suatu hari, kita semua akan kembali.

Bukan sekadar berpindah, tetapi benar-benar pulang ke tempat asal yang tak bisa ditunda.

 

Hidup ini hanyalah persinggahan.

Faktanya, mereka yang kemarin bersama kita duduk, tertawa, berbagi cerita, hari ini telah tiada.

Meninggalkan sunyi dan kenangan yang tak bisa diulang.

Kini, giliran itu hanya menunggu waktu.

Tak ada yang tahu kapan, tak ada yang siap sepenuhnya.

Dan pada akhirnya, di ujung perjalanan yang tak terelakkan, hanya ada satu harapan yang tersisa.

Semoga kita kembali kepada Nya, dalam keadaan terbaik, dengan hati yang bersih, dan langkah yang telah selesai menunaikan arti hidup.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *