Di Balik Pembangunan Lampung Tengah, Rumah Guru Ngaji Ini Jadi Tamparan: Kepedulian Tak Boleh Berhenti di Seremoni

Lampung Tengah — Di tengah geliat pembangunan dan berbagai program pemerintah daerah, masih ada realitas sosial yang tidak boleh luput dari perhatian: sebagian masyarakat masih berjuang mendapatkan hunian yang layak. Selasa, 11/08/2026.

 

Realitas itu terlihat di Dusun 3, Kampung Rama Oetama, Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah. Rumah milik Nurrohim, seorang guru ngaji, menjadi salah satu gambaran bahwa persoalan kesejahteraan masyarakat di tingkat bawah masih membutuhkan kepedulian dan perhatian bersama.

 

Rumah tersebut akhirnya mendapatkan sentuhan melalui Program Bedah Rumah Pramuka Peduli Kwartir Ranting (Kwaran) Seputih Raman. Program yang diwujudkan melalui semangat gotong royong itu kemudian diresmikan dengan dihadiri Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri, S.E., M.Sos.

 

Kehadiran pimpinan daerah dalam peresmian tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Lebih jauh, rumah Nurrohim menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan semestinya juga diukur dari seberapa jauh masyarakat yang berada di lapisan bawah merasakan manfaatnya.

 

Nurrohim yang selama ini mengabdikan diri sebagai guru ngaji memiliki peran sosial di tengah masyarakat. Namun, pengabdian seseorang kepada lingkungan tidak serta-merta membuat kebutuhan hidupnya terpenuhi. Ketika tempat tinggal masih membutuhkan perhatian, kepedulian masyarakat menjadi sangat berarti.

 

Program Bedah Rumah Pramuka Peduli menunjukkan bahwa persoalan seperti ini dapat dijawab melalui kolaborasi. Gerakan Pramuka bersama masyarakat membuktikan bahwa nilai gotong royong, kepedulian, dan pengabdian masih memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan warga secara langsung.

 

Namun, satu rumah yang berhasil dibedah juga menghadirkan pertanyaan yang lebih luas: berapa banyak lagi rumah warga yang kondisinya membutuhkan perhatian, tetapi belum tersentuh program serupa?

 

Pertanyaan tersebut penting karena persoalan rumah tidak layak huni bukan hanya menyangkut bangunan fisik. Di dalamnya terdapat persoalan mengenai keamanan, kesehatan, kenyamanan, martabat, dan kualitas hidup masyarakat.

 

Karena itu, momentum peresmian rumah Nurrohim seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Justru harus menjadi pemantik agar pendataan warga yang membutuhkan hunian layak dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

 

Pemerintah daerah memiliki peran penting untuk memastikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak terlewatkan. Sementara organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, Gerakan Pramuka, dan masyarakat dapat menjadi kekuatan pendukung dalam memperluas kepedulian tersebut.

 

Bagi Nurrohim, rumah yang kini lebih layak tentu bukan sekadar bangunan baru. Itu adalah bentuk penghargaan atas pengabdiannya sebagai guru ngaji sekaligus bukti bahwa kepedulian masih hadir ketika masyarakat bergerak bersama.

 

Rumah Nurrohim telah selesai dibedah. Tetapi pekerjaan yang lebih besar belum selesai: memastikan tidak ada lagi warga yang harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan tempat tinggal yang aman, layak, dan manusiawi.

 

Di situlah keberpihakan kepada masyarakat benar-benar diuji—bukan dari seberapa meriah sebuah peresmian, tetapi dari seberapa banyak warga yang akhirnya bisa hidup lebih layak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *