Metro — Gelombang aksi Aliansi Mahasiswa Kota Metro mengguncang Kantor DPRD Kota Metro. Suasana sempat memanas ketika massa menuntut kejelasan sikap wakil rakyat terkait berbagai persoalan daerah yang dinilai tak kunjung tuntas.

Di tengah tekanan massa yang semakin kuat, anggota DPRD Kota Metro, Efril Hadi, turun langsung ke hadapan demonstran. Langkah ini dinilai sebagai upaya meredam situasi sekaligus bentuk tanggung jawab moral wakil rakyat dalam menghadapi aspirasi publik secara terbuka.
Namun, dialog yang terjadi jauh dari kata tenang. Adu argumen antara mahasiswa dan pihak DPRD tak terhindarkan. Massa dengan tegas mendesak agar Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso dan Wakil Wali Kota Muhammad Rafieq Adi Pradana segera dihadirkan di tengah aksi untuk memberikan penjelasan secara langsung.
Desakan tersebut bukan tanpa alasan. Mahasiswa menilai kepemimpinan daerah terkesan menghindar dari tanggung jawab, terutama dalam menjawab isu-isu krusial yang berkembang di tengah masyarakat.
Menanggapi tekanan itu, Efril Hadi menegaskan bahwa pemanggilan kepala daerah tidak bisa dilakukan secara instan. Ia menyebut ada mekanisme resmi yang harus ditempuh melalui undangan kelembagaan DPRD kepada pihak eksekutif.
Meski sempat memanas, situasi akhirnya dapat dikendalikan. Massa aksi diberikan ruang untuk masuk ke dalam gedung DPRD guna menyampaikan aspirasi secara langsung.
Aksi ini menjadi sinyal keras bagi pemerintah daerah dan DPRD bahwa kepercayaan publik tidak bisa terus diuji. Mahasiswa menegaskan, mereka akan terus mengawal dan menekan hingga tuntutan benar-benar dijawab, bukan sekadar janji tanpa realisasi.







