Metro — Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, keluarga besar Silat dan Seni Debus Surosowan Pendekar Banten Lampung di bawah pimpinan H. Tb. Ismail Saleh, SH menyampaikan refleksi sekaligus suara kritis atas kondisi kehidupan masyarakat. Jumat, 14/08/2026.
Bagi H. Tb. Ismail Saleh, kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu dengan darah dan air mata tidak boleh berhenti sebatas seremoni, pengibaran bendera maupun pidato perayaan. Makna kemerdekaan harus benar-benar hadir dalam kehidupan rakyat melalui kesejahteraan, keadilan, keamanan dan kesempatan hidup yang layak.
Dengan mengusung tema “Merdeka dalam Harapan, Bersatu Menghadapi Keluh Kesah Rakyat”, Surosowan Pendekar Banten Lampung menilai masih banyak persoalan yang harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.
Pertama, persoalan ekonomi rakyat. Kenaikan kebutuhan hidup dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi beban yang dirasakan masyarakat kecil. Pedagang di pasar, petani, pekerja, pelaku usaha kecil hingga masyarakat berpenghasilan rendah harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, kemerdekaan akan terasa hambar apabila masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok dan mencari pekerjaan yang layak.
Kedua, persoalan keadilan. Hukum harus berdiri tegak dan memberikan perlakuan yang sama kepada seluruh warga negara. Jangan sampai masyarakat kecil merasa hukum begitu keras terhadap mereka, sementara orang yang memiliki kekuasaan, jabatan atau kekuatan justru mendapatkan perlakuan berbeda.
“Rakyat membutuhkan kepastian hukum dan perlindungan, bukan sekadar janji,” tegas H. Tb. Ismail Saleh.
Ketiga, pendidikan dan kesehatan. Kedua sektor tersebut merupakan hak dasar masyarakat yang harus mendapatkan perhatian serius. Jangan sampai anak-anak bangsa kehilangan kesempatan meraih masa depan hanya karena persoalan biaya pendidikan. Demikian pula pelayanan kesehatan harus dapat dijangkau masyarakat tanpa membuat keluarga miskin semakin terhimpit.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Surosowan Pendekar Banten Lampung juga menyerukan agar masyarakat tidak mudah diadu domba. Perbedaan suku, agama, budaya maupun golongan harus menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling bermusuhan.
H. Tb. Ismail Saleh menegaskan, kritik yang disampaikan bukan bentuk kebencian terhadap pemerintah maupun negara. Sebaliknya, kritik tersebut merupakan bentuk kepedulian dan kecintaan terhadap Indonesia.
“Kami tidak datang untuk menebar kebencian. Kami datang sebagai anak bangsa yang mencintai negeri ini. Kritik adalah bentuk cinta, dan protes adalah bentuk harapan agar Indonesia yang telah merdeka juga benar-benar sejahtera lahir dan batin,” ujarnya.
Ia pun meminta para pemimpin di semua tingkatan agar tidak hanya melihat persoalan rakyat dari balik meja. Pemerintah, menurutnya, harus lebih sering turun langsung ke tengah masyarakat, mendengar keluhan, melihat kondisi nyata dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi warga.
“Turunlah ke bawah. Duduk bersama rakyat, dengarkan keluh kesah mereka dan rasakan apa yang mereka rasakan,” serunya.
Kepada masyarakat Indonesia, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak menyerah menghadapi berbagai kesulitan. Gotong royong dan persatuan harus terus dirawat agar persoalan bangsa tidak justru menjadi alasan masyarakat saling menyalahkan.
Memasuki usia kemerdekaan ke-81, Surosowan Pendekar Banten Lampung berharap Indonesia tidak hanya semakin maju dalam pembangunan, tetapi juga semakin kuat dalam memberikan rasa keadilan dan kesejahteraan kepada seluruh rakyat.
“Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”
Pendekar Banten: Bela Diri, Bela Bangsa, Bela Negara. NKRI Harga Mati.

