METRO — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober hendaknya tidak berhenti pada seremoni, pengibaran bendera, atau sekadar unggahan di media sosial. Lebih dari itu, tanggal tersebut merupakan momentum untuk kembali membuka buku sejarah, membaca berbagai sumber, memahami konteks zamannya, serta mengambil pelajaran dari rangkaian peristiwa bangsa yang pernah terjadi.
Hal tersebut disampaikan Dwi Hartoyo kepada media ini, Rabu, 30 September 2026. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki keberanian untuk mengenal sejarah bangsanya secara lebih utuh, termasuk membaca berbagai sumber dan perspektif mengenai peristiwa politik dan sosial yang terjadi pada 1965 serta perjalanan Indonesia sesudahnya.
“Jangan lupakan sejarah bangsa. Generasi muda harus lebih banyak membaca, bukan hanya mengetahui tanggalnya, tetapi memahami mengapa 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan apa pelajaran yang dapat diambil dari berbagai peristiwa yang melatarbelakanginya,” ujar Dwi Hartoyo.
Secara resmi, 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967 dan diperingati secara nasional. Peringatan tersebut berkaitan erat dengan pergolakan politik 1965, penculikan dan terbunuhnya sejumlah perwira TNI Angkatan Darat, serta ditemukannya jenazah para korban di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Namun, memahami sejarah tidak cukup dengan menghafalkan nama, tanggal, maupun rangkaian kejadian. Sejarah harus dibaca sebagai proses panjang yang memiliki latar belakang politik, sosial, ideologi dan kehidupan masyarakat pada zamannya. Karena itu, membaca sejarah secara kritis dan membandingkan sumber-sumber yang tersedia menjadi bagian penting agar generasi penerus tidak mudah menerima informasi secara sepotong-sepotong.
Bukan Sekadar Upacara, tetapi Momentum Belajar
Dwi Hartoyo menilai, salah satu tantangan generasi muda saat ini adalah derasnya arus informasi digital. Informasi sejarah dapat ditemukan dengan mudah, tetapi pada saat yang sama informasi yang tidak lengkap, keliru, atau tidak memiliki sumber yang jelas juga dapat beredar luas.
Karena itu, peringatan 1 Oktober seharusnya menjadi kesempatan untuk mengajak anak-anak muda kembali membaca buku, membuka arsip, mempelajari dokumen, mengunjungi museum dan mendengarkan keterangan dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, misalnya, telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan menjadi salah satu tempat penting dalam upaya menjaga ingatan publik mengenai sejarah Indonesia.
“Jangan sampai generasi muda hafal banyak hal dari media sosial, tetapi justru tidak mengenal perjalanan bangsanya sendiri. Sejarah bukan untuk membangkitkan kebencian, melainkan untuk memahami apa yang pernah terjadi dan bagaimana bangsa ini harus belajar agar kesalahan masa lalu tidak terulang,” kata Dwi.
Belajar Sejarah, Merawat Persatuan
Menurutnya, nilai penting dari peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga terletak pada upaya menjaga persatuan Indonesia. Dalam berbagai peringatan resmi, Pancasila ditempatkan sebagai dasar negara dan nilai yang menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintah juga menekankan pentingnya pendidikan karakter dan pengamalan nilai-nilai Pancasila bagi generasi penerus.
Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya mengenal lima sila secara hafalan. Nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial perlu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, menghargai perbedaan, menolak kekerasan, menjaga persaudaraan, menghormati hukum serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum teruji.
Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 dengan demikian dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berhenti sejenak dari derasnya arus informasi dan kembali bertanya: sejauh mana kita mengenal sejarah bangsa sendiri dan apa yang sudah kita pelajari darinya?
Dwi Hartoyo mengingatkan bahwa bangsa yang besar bukan bangsa yang menghapus masa lalunya, melainkan bangsa yang mampu belajar dari sejarah dengan kepala dingin dan menjadikannya bekal untuk membangun masa depan.
“Mari membaca sejarah. Mari memahami sejarah. Jangan mewariskan kebencian, tetapi jangan pula menghilangkan ingatan. Dari sejarah kita belajar tentang mahalnya persatuan, pentingnya Pancasila dan tanggung jawab kita menjaga Indonesia untuk generasi berikutnya,” pungkasnya.
Peringatan 1 Oktober akhirnya bukan sekadar tentang mengenang masa lalu. Ia adalah ruang untuk bercermin, agar generasi hari ini memahami perjalanan bangsa, menghargai pengorbanan para pendahulu, menjaga persatuan dan memastikan sejarah tetap hidup sebagai pelajaran bagi generasi yang akan datang.








