Sulawesi Selatan — Tragedi udara mengguncang kawasan pegunungan Sulawesi Selatan. Sebuah pesawat ATR bernomor registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak dan diduga menghantam lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.00 WITA.
Dua pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), menjadi saksi mata langsung momen-momen paling menentukan sebelum ledakan maut terjadi.
Menurut penuturan Reski, pesawat terlihat melintas sangat rendah, jauh di bawah ketinggian normal penerbangan di wilayah pegunungan.
“Pesawatnya terbang rendah sekali, seperti dikikis gunung. Lalu langsung meledak dan terbakar,” ujar Reski dengan suara gemetar. Dilansir dari kompas.com. Minggu, 18/02/2026.
Dalam hitungan detik, pesawat menghantam lereng Bulusaraung. Dentuman keras mengguncang puncak gunung, disertai kobaran api besar dan serpihan logam yang beterbangan ke segala arah.
Jarak Reski dan Muslimin dengan titik ledakan diperkirakan hanya sekitar 100 meter jarak yang nyaris merenggut nyawa keduanya.
“Ada api besar, dan saya kena serpihan,” kata Reski, alumnus Pondok Pesantren DDI Tobarakka, Siwa, Kabupaten Wajo.
Karena situasi sangat cepat dan mencekam, Reski mengaku tidak sempat merekam detik awal ledakan. Namun setelah kondisi agak mereda, keduanya menemukan serpihan badan pesawat bertuliskan logo Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta dokumen-dokumen yang terhambur di sekitar lokasi kejadian.
Temuan tersebut sempat direkam menggunakan ponsel sebagai bukti awal, sebelum mereka menjauh demi menyelamatkan diri.
Pesawat ATR PK-THT diketahui merupakan milik Indonesia Air Transport, yang disewa untuk mendukung Tim Air Surveillance Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP.
Kesaksian dua pendaki ini menjadi kunci awal rekonstruksi tragedi, sekaligus membuka fakta betapa rawannya jalur penerbangan di kawasan pegunungan dan betapa dekatnya maut dengan para pendaki yang berada di puncak Bulusaraung saat kejadian. (Foto: kompas.com)







