Reses “Meledak” di Karangrejo, Lek Dar Tantang Pemkot Metro: “Kalau Tak Mampu Benahi TPAS, Tutup Sekarang Juga!”

Metro  —  Sudarsono atau yang akrab disapa “Lek Dar”, mengguncang jalannya reses DPRD Kota Metro di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Metro Utara, Rabu (13/5/2026).

Bukan sekadar agenda serap aspirasi biasa, reses tersebut berubah menjadi forum perlawanan warga terhadap keberadaan TPAS Karangrejo yang selama bertahun-tahun dituding menjadi sumber penderitaan masyarakat.

Di hadapan ratusan warga, Lek Dar tampil tanpa kompromi. Dengan nada tinggi dan penuh emosi, ia membongkar keras buruknya pengelolaan TPAS Karangrejo yang hingga kini masih menggunakan pola open dumping dan telah mendapat sanksi dari pemerintah pusat.

“Ini bukan lagi soal sampah. Ini soal harga diri masyarakat Karangrejo yang selama ini seperti dipaksa hidup berdampingan dengan bau busuk dan serangan lalat setiap hari!” tegas Lek Dar disambut gemuruh tepuk tangan warga.

 

Reses yang digelar langsung di lokasi sekitar TPAS itu dipadati hampir 200 warga. Banyak masyarakat rela berdiri berjam-jam demi menyuarakan kemarahan mereka terhadap kondisi lingkungan yang dinilai semakin tidak manusiawi.

Turut hadir Wakil Ketua II DPRD Kota Metro Abdulhak, sejumlah anggota DPRD, pejabat Pemkot Metro, aparat TNI-Polri, hingga tokoh masyarakat Metro Utara.

Namun sorotan utama tertuju kepada Lek Dar yang berkali-kali melontarkan kritik tajam kepada pemerintah daerah.

Menurutnya, warga Karangrejo selama ini hanya dijadikan “tameng penderitaan” akibat buruknya tata kelola sampah Kota Metro.

“Orang hajatan tidak bisa makan tenang karena lalat. Rumah susah dibangun karena bau. Tanah tidak laku dijual. Ini bentuk ketidakadilan yang nyata!” katanya lantang.

Suasana makin memanas ketika Lek Dar berdiri dan menantang langsung warga.

“Kalau pemerintah terus tutup mata, apakah bapak ibu siap menutup TPAS ini?!”

 

Dengan suara bergemuruh warga menjawab:

“SIAAAPPPP!”

 

Sorakan warga langsung pecah memenuhi lokasi reses.

 

Lek Dar menegaskan dirinya tidak takut menghadapi tekanan ataupun cibiran karena membela masyarakat Karangrejo. Ia mengaku sudah sejak lama memperingatkan pemerintah mengenai dampak buruk TPAS tersebut, bahkan jauh sebelum dirinya duduk di kursi DPRD.

“Dulu saya dianggap berlebihan. Dibully, diejek, dicibir. Tapi hari ini saya bicara dengan kewenangan sebagai wakil rakyat. Dan kewenangan itu saya kembalikan kepada masyarakat!” tegasnya.

 

Dalam penyampaiannya, Lek Dar juga mengungkap rasa malu ketika pejabat nasional pernah datang ke lokasi TPAS Karangrejo dan mendapati meja makan dipenuhi lalat.

“Bagaimana Kota Metro mau maju kalau tamu datang saja disambut bau sampah dan lalat? Ini tamparan keras untuk pemerintah daerah!” ujarnya.

 

Meski keras dalam kritiknya, Lek Dar menegaskan perjuangannya bukan sekadar politik pencitraan. Ia mengaku ingin menyelamatkan lingkungan dan kesehatan warga Metro Utara yang selama ini hidup di bawah ancaman pencemaran.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh lagi bermain dengan janji dan wacana. Ia mendesak langkah konkret, mulai dari penataan total hingga relokasi TPAS jika memang sudah tidak layak dipertahankan.

“Warga bukan tempat sampah! Jangan biarkan rakyat kecil terus menjadi korban kelalaian pemerintah!” katanya lagi.

 

Di akhir reses, Lek Dar bahkan melontarkan ultimatum keras. Jika sanksi dari Kementerian Lingkungan Hidup tetap diabaikan dan tidak ada tindakan nyata dari Pemkot Metro, maka masyarakat bersama dirinya siap melakukan penutupan TPAS Karangrejo.

“Dengan membaca bismillah, kalau pemerintah tidak bergerak, masyarakat akan bergerak sendiri menutup TPAS ini. Apa pun risikonya!” tandas Lek Dar disambut teriakan dukungan warga Karangrejo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *