Kota Metro — Pernyataan keras datang dari Ketua Pendekar Banten Kota Metro, H. Tb Ismail, S.H., yang menegaskan bahwa gelaran Gebyar Harlah ke-6 Pendekar Banten Tahun 2026 bukan sekadar tontonan ekstrem, melainkan momentum serius menguji keberanian, spiritualitas, sekaligus mempertegas jati diri budaya yang mulai tergerus zaman.
Kepada media ini pada Selasa, 23 Maret 2026 petang, Tb Ismail menyampaikan bahwa acara yang akan menghadirkan 1.000 pendekar dari berbagai perguruan silat se-Provinsi Lampung ini akan menampilkan aksi-aksi Debus Surosowan yang tergolong ekstrem, termasuk minum minyak panas, menusukkan benda tajam ke tubuh, hingga aksi kebal senjata.
“Ini bukan sekadar hiburan. Ini warisan leluhur yang sarat makna spiritual. Debus Surosowan mengajarkan keberanian, kesabaran, dan kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jangan disempitkan hanya sebagai atraksi,” tegasnya.
Namun di balik kemegahan rencana acara, muncul sorotan tajam: apakah pelestarian budaya benar-benar menjadi prioritas atau justru selama ini hanya jargon tanpa implementasi serius? Tb Ismail seolah menyentil berbagai pihak yang dinilai belum maksimal dalam menjaga eksistensi seni tradisional.
Ia menegaskan, Debus Surosowan adalah simbol identitas masyarakat Banten yang kini hidup dan berkembang di Lampung. Seni ini bukan sekadar pertunjukan ekstrem, tetapi memiliki dimensi spiritual yang dalam, yang menuntut disiplin, keimanan dan pengendalian diri tingkat tinggi.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Jangan sampai budaya kita hanya jadi cerita tanpa penerus. Generasi muda harus dikenalkan langsung, bukan hanya lewat seremoni,” ujarnya tajam.
Acara ini juga disebut akan dikemas dengan nuansa budaya yang kental, menghadirkan pertunjukan silat tradisional, musik daerah serta tarian khas sebagai penguat nilai-nilai kearifan lokal.
Secara struktural, kegiatan ini diklaim telah dikoordinasikan dengan berbagai unsur penting di Provinsi Lampung, mulai dari Gubernur, Sekretaris Daerah, Dinas Kebudayaan, hingga unsur Forkopimda seperti Kapolda dan Kapolres. Dukungan tersebut, menurut Tb Ismail, menjadi bukti bahwa kegiatan ini bukan agenda biasa, melainkan bagian dari penguatan budaya dan karakter bangsa.
Meski demikian, publik tetap menaruh perhatian: bagaimana standar keamanan, kesiapan peserta hingga pengawasan terhadap aksi ekstrem yang ditampilkan? Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat skala acara yang besar dan melibatkan ribuan peserta.
Pendekar Banten menegaskan komitmennya: bela diri bukan sekadar fisik, tetapi juga bela bangsa dan bela negara.
“NKRI harga mati. Pendekar Banten tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga menjaga nilai-nilai kebangsaan,” pungkas Tb Ismail.
Acara ini diharapkan tidak hanya menjadi panggung keberanian, tetapi juga menjadi refleksi serius: sejauh mana bangsa ini benar-benar menjaga warisan budayanya atau justru membiarkannya perlahan hilang ditelan zaman.







