Oleh: Hartoyo Dwi
Minggu, 29 Maret 2026
Di tengah realitas kehidupan yang terus bergerak, kita sering dihadapkan pada kenyataan yang tak selalu selaras dengan nilai kebenaran. Ada mereka yang sesungguhnya paham bahwa langkah yang diambil berada di jalur yang keliru. Namun, dorongan kebutuhan hidup yang sering dianalogikan sebagai “cacing dalam perut” membuat mereka memilih untuk tetap bertahan, meski sadar akan konsekuensinya.
Ironisnya, tidak sedikit dari mereka yang terjerumus justru berasal dari kalangan berpendidikan tinggi. Gelar akademik seperti profesor dan doktor yang semestinya menjadi simbol keilmuan dan kebijaksanaan, pada kenyataannya belum tentu sejalan dengan integritas moral. Hal ini menjadi pengingat bahwa ilmu tanpa kejujuran hanyalah capaian kosong yang kehilangan makna sejati.
Bagi masyarakat luas, terutama yang hidup dalam kesederhanaan, kondisi ini seringkali menimbulkan keprihatinan. Kita mungkin tidak memiliki gelar tinggi, namun kita masih memegang nilai kejujuran sebagai prinsip hidup. Dari sinilah pelajaran penting itu muncul: bahwa menjaga diri untuk tetap jujur adalah perjuangan yang jauh lebih berat daripada sekadar meraih prestasi akademik.
Opini ini bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai cermin bersama. Bahwa setiap pilihan memiliki dampak, dan setiap tindakan membawa tanggung jawab. Kesadaran untuk tetap berada di jalur yang benar harus terus ditumbuhkan, bukan hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pembentukan karakter dan nilai-nilai moral.
Karena pada akhirnya, yang menentukan kualitas seseorang bukan hanya apa yang ia ketahui, tetapi bagaimana ia menjalani apa yang ia ketahui itu dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran.







