Lampung — Hari Buruh Internasional bukan sekadar catatan merah di kalender, bukan pula seremoni tahunan yang hanya dipenuhi pidato dan spanduk. Momentum ini sejatinya menjadi pengingat keras bahwa masih banyak pekerja di Indonesia yang berjuang demi kehidupan layak, termasuk para buruh di perusahaan kecil maupun besar yang hingga kini masih berharap adanya peningkatan kesejahteraan secara nyata.
Upah yang manusiawi, jaminan kerja yang aman serta perlindungan hak-hak pekerja dinilai harus benar-benar diwujudkan, bukan hanya menjadi janji atau slogan tahunan. Harapannya, nasib para buruh perlahan bisa keluar dari garis pra sejahtera menuju kehidupan yang lebih layak dan bermartabat.
Di tengah sorotan terhadap nasib buruh, ada satu profesi yang juga dinilai belum mendapatkan perhatian serius, yakni para wartawan atau “kuli tinta”. Mereka bekerja memburu informasi di lapangan, menghadapi tekanan, risiko, hingga ancaman, demi menyajikan berita kepada publik. Namun ironisnya, banyak jurnalis yang masih hidup dalam keterbatasan ekonomi dan minim perlindungan.
Hal itu diungkapkan Dwi Hartoyo, wartawan yunior yang telah enam tahun mendalami dunia jurnalistik. Dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki, dirinya mengaku telah menghasilkan ribuan karya berita, namun realita kehidupan wartawan di lapangan masih jauh dari kata sejahtera.
“Ketika curhat bersama sesama jurnalis, masih banyak keluhan yang terdengar soal situasi yang terjadi selama ini. Pada akhirnya hanya ada dua pilihan, bermitra dengan pemerintah atau swasta, ataupun berjalan sendiri dengan segala risiko,” ujar Hartoyo.
Ia menilai pers sebagai pilar keempat demokrasi masih kurang mendapatkan perhatian, baik dari pemerintah maupun pihak swasta. Bahkan dalam menjalankan tugas jurnalistik, wartawan tidak jarang menghadapi tekanan keras hingga berujung tindakan intimidasi dan kekerasan.
Menurutnya, penghargaan terhadap profesi wartawan seharusnya tidak hanya sebatas ucapan terima kasih, tetapi juga diwujudkan melalui perhatian nyata terhadap kesejahteraan dan perlindungan kerja insan pers.
Hari Buruh, lanjutnya, harus menjadi momentum bersama untuk membuka mata bahwa setiap profesi yang bekerja demi kepentingan masyarakat layak mendapatkan penghargaan dan perlindungan yang adil.
Karena setiap tetes keringat pekerja, termasuk tinta para jurnalis, memiliki peran besar dalam menjaga roda kehidupan dan demokrasi bangsa.
#NegaraHadirUntukBuruh
#BuruhSejahteraIndonesiaKuat
#KerjaAmanEkonomiTumbuh
#PersJugaBuruhDemokrasi







