Nasional — Minggu, 12 April 2026
Indonesia kembali diguncang kenyataan pahit: peredaran narkoba tak hanya masif, tapi makin nekat dan terorganisir. Teranyar, aparat berhasil menggagalkan penyelundupan lebih dari 15 kilogram sabu di wilayah Bakauheni ironisnya, barang haram itu disamarkan menggunakan mobil ambulans, simbol kemanusiaan yang justru disalahgunakan oleh jaringan kejahatan.
Di tengah kondisi yang makin mengkhawatirkan ini, Gerakan Anti Narkoba Nasional (GANNAS) melayangkan somasi terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Desakan itu disampaikan dalam forum Musyawarah Akbar dan Halal Bihalal di Pondok Aren pada Sabtu, 11 April 2026.
Ketua Umum GANNAS, I Nyoman Adi Peri, dengan nada keras menegaskan bahwa Indonesia kembali berada di ambang darurat narkotika. Ia mengingatkan bahwa setiap hari, sekitar 15 nyawa melayang sia-sia akibat jeratan narkoba.
“Ini bukan lagi sekadar ancaman, ini sudah perang nyata. Negara harus kembali siaga satu!” tegas Nyoman.
Inpres Mandek, Narkoba Makin Merajalela
GANNAS menyoroti berakhirnya Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2020 pada tahun 2024 yang hingga kini belum diperpanjang. Padahal, regulasi tersebut menjadi tulang punggung koordinasi nasional dalam pemberantasan narkotika.
Tanpa payung hukum yang kuat, celah semakin terbuka dan jaringan narkoba bergerak semakin liar, bahkan berani menyusup menggunakan fasilitas vital seperti ambulans.
“Ada kekosongan kebijakan. Ini sangat berbahaya. Presiden harus segera bertindak!” ujar Nyoman.
Oknum Aparat Disebut Terlibat
Lebih mengejutkan, GANNAS juga menyinggung dugaan keterlibatan oknum aparat, baik dari TNI maupun Polri, dalam jaringan narkoba. Bahkan, disebut ada yang berpangkat tinggi dan telah dijatuhi hukuman berat.
“Kalau aparat terlibat, itu pengkhianatan. Harus dihukum seberat-beratnya!” tegasnya tanpa kompromi.
Pernyataan ini mencerminkan krisis kepercayaan publik yang kian dalam terhadap penegak hukum di tengah maraknya kasus narkotika.
Fakta Lapangan: Lampung Jadi Pintu Rawan
Kasus 15 kg sabu di Bakauheni menjadi alarm keras bahwa wilayah Lampung masih menjadi jalur empuk penyelundupan narkoba antar pulau. Modus penyamaran menggunakan ambulans menunjukkan bahwa sindikat narkoba kini semakin canggih, licik, dan tak punya batas moral.
Sumpah Moral & Tekanan ke Presiden
Dalam forum tersebut, GANNAS bahkan mengucapkan sumpah moral yang keras menyerukan kutukan bagi siapa pun yang terlibat dalam peredaran narkoba, tanpa pandang bulu.
Di sisi lain, mereka tetap menyatakan dukungan penuh kepada Presiden Prabowo Subianto untuk bertindak tegas dan cepat.
“Kami di belakang Presiden, tapi negara tidak boleh lambat. Generasi muda sedang dipertaruhkan,” tutup Nyoman.
KESIMPULAN: JANGAN TUNGGU LEBIH BANYAK KORBAN
Kasus demi kasus yang terus terungkap termasuk penyelundupan sabu dalam ambulans adalah bukti nyata bahwa Indonesia belum keluar dari jerat narkoba. Tanpa langkah tegas, cepat dan terkoordinasi, “Indonesia Emas 2045” bisa berubah menjadi ilusi yang hancur oleh narkotika.
Ini bukan lagi pilihan. Ini darurat.
Redaksi : Hartoyo Dwi







