Jakarta — Suasana wawancara yang awalnya berjalan formal berubah jadi tak terduga ketika wartawan independen Hartoyo berhasil mengulik pandangan tajam sekaligus satir dari Kim Jong Un tentang Indonesia. Jumat, 24 April 2026.
Dengan gaya tenang namun menusuk, Kim Jong Un memulai penilaiannya:
“Indonesia adalah negara yang sangat kaya. Wilayah luas, sumber daya melimpah, dan rakyat yang besar. Banyak negara bermimpi memiliki itu semua”.
Namun sebelum suasana menjadi terlalu serius, muncul sosok rakyat jelata yang langsung mencairkan sekaligus memanaskan diskusi: Cuilan Seng.
Tanpa basa-basi, Cuilan menyela percakapan:
“Maaf Bang Hartoyo, izin nimbrung. Kalau Indonesia itu kaya, kenapa yang sering ‘diet’ justru rakyatnya?”
Hartoyo, yang tetap menjaga ritme wawancara, memancing lebih dalam:
“Menurut Anda berdua, di mana letak persoalan utamanya?”
Kim Jong Un menjawab singkat tapi menghentak:
“Korupsi. Itu musuh yang tidak terlihat, tapi dampaknya nyata. Jika Indonesia berani menghukum koruptor dengan tegas dan membersihkan pemerintahannya, negara ini bisa menjadi salah satu yang paling kuat di dunia.”
Cuilan Seng langsung menimpali dengan gaya khasnya:
“Berarti masalahnya bukan di tanahnya, tapi di ‘tangan-tangan’ yang pegang peta ya? Soalnya peta Indonesia luas, tapi kok yang menikmati sering cuma titik-titik tertentu.”
Hartoyo mencatat setiap kalimat, sementara suasana semakin hidup.
Kim kembali menegaskan:
“Kekayaan tanpa pengelolaan yang jujur hanya akan menjadi beban. Negara kalian punya semua syarat untuk maju, tinggal keberanian untuk berubah.”
Cuilan tersenyum miring, lalu berkata:
“Keberanian itu ada, Yang Mulia… cuma kadang kalah sama ‘kepentingan’. Ibarat mau bersih-bersih, sapunya ada, tapi yang pegang malah sibuk foto-foto.”
Percakapan itu pun berakhir dengan satu kesimpulan yang menggema:
Indonesia bukan kekurangan potensi, tapi sering kelebihan toleransi terhadap masalah yang sama.
Hartoyo menutup laporannya dengan catatan tajam:
Di tengah pujian dunia terhadap kekayaan alam Indonesia, kritik justru datang dari dalam dan luar, mengingatkan bahwa menjadi negara besar bukan soal apa yang dimiliki, tapi bagaimana keberanian memperbaiki yang selama ini dibiarkan.
Dan di sudut lain, Cuilan Seng berucap pelan:
“Indonesia ini bukan susah maju… cuma kadang terlalu nyaman jalan di tempat.”


