Pendekar Banten Tegaskan Komitmen Kawal Ulama, H. Tb Ismail S SH Hadiri Haul Akbar Senin Malam di Ponpes Nurul Ulum Ash-Shiddqi

 

LAMPUNG TENGAH — Pendekar Banten kembali meneguhkan jati dirinya sebagai penjaga ulama dan tradisi pesantren. Senin malam, 19 Januari 2026, Ketua Pendekar Banten Kota Metro H. Tb Ismail S. SH bersama jajaran pengurus menghadiri haul akbar di Pondok Pesantren Nurul Ulum Ash-Shiddqi, Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah.

Kehadiran H. Tb Ismail S. SH didampingi Ketua Pendekar Banten Lampung Tengah Timbul Arisandy, Ketua Satgas Jaman Susilo, jajaran satgas, Srikandi Pendekar Banten, serta pengurus lainnya. Rombongan disambut langsung para kiai sepuh, di antaranya KH Ibnu Mubarok, KH Suparman Abdul Karim, KH Jarno, KH Amin, serta para ustaz, Ustad Abdul Karim dan Ustad Masduki, bersama ribuan santri dan santriwati.

Haul tersebut digelar untuk mendoakan dan mengenang jasa para masyayikh:
Romo Yai KH Ahmad Zuhri Al-Maghfurlah
Romo Yai Muzamil Al-Maghfurlah
Mbah Hj Ruqoyah.

Acara dimulai pukul 20.00 WIB selepas salat Isya dengan lantunan shalawat yang menggema, menciptakan suasana religius dan khidmat.

Sambutan disampaikan oleh KH Suparman Abdul Karim, dilanjutkan sambutan Ketua Pendekar Banten Kota Metro H. Tb Ismail S. SH, yang menegaskan bahwa Pendekar Banten berdiri tegak sebagai pengawal ulama, santri, dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Tausiyah disampaikan oleh KH Sutarno, sebelum rangkaian acara ditutup dengan doa bersama pada pukul 00.00 WIB. Seluruh kegiatan berjalan tertib, aman, dan penuh kekhusyukan.

Usai haul, para Mbah Yai dari Lampung Tengah, Lampung Timur, hingga tingkat Provinsi Lampung tampak berbincang hangat dengan Ketua Pendekar Banten Kota Metro. Dalam pertemuan tersebut, menguat pembahasan mengenai peran historis Pendekar Banten sebagai benteng ulama, penjaga tradisi pesantren, serta bagian dari cikal bakal lahirnya para kiai dan pemimpin umat.

Pendekar Banten menegaskan, kehadiran mereka bukan sekadar simbol, melainkan ikrar sejarah dan tanggung jawab moral untuk terus menjaga kehormatan ulama, keutuhan umat, dan kelestarian budaya keagamaan Nusantara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *