Seruan Keras Ketua Kelompok Tani: Jangan Biarkan Pabrik Rakyat Tumbang, Warga Diminta Giling di Pabrik Sendiri

Lampung Tengah  —  Kesadaran kolektif mulai menguat di tengah anggota dan masyarakat RW 5 dan RW 6 tentang pentingnya menjaga keberlangsungan pabrik penggilingan padi milik kelompok tani. Seruan tegas pun disampaikan langsung oleh Ketua Kelompok Tani F1 dan F2, Dwi Hartoyo dengan Cp. 081279233668

 

Pada Kamis, 26/03/2026, Dwi Hartoyo secara terbuka mengajak seluruh anggota dan masyarakat untuk menggiling padi di pabrik sendiri. Ia menegaskan, keberlangsungan pabrik ini sepenuhnya bergantung pada kepedulian dan komitmen bersama.

“Jika anggota dan masyarakat sadar, maka manfaatnya akan kembali ke kita semua,” tegasnya.

 

Pabrik kelompok tani bukan hanya tempat produksi, tetapi menjadi pusat perputaran ekonomi dan kesejahteraan bersama. Dengan meningkatnya aktivitas penggilingan, sisa hasil usaha (SHU) yang diterima anggota setiap tahun akan semakin besar.

 

Tak hanya itu, manfaatnya juga dirasakan luas oleh masyarakat RW 5 dan RW 6. Bahkan, nilai sosial yang terkandung di dalamnya sangat tinggi—sebuah bentuk amal yang tidak terlihat. Dari hasil bawon beras yang dipresentasikan, turut dialokasikan untuk kepentingan sosial, termasuk andil masjid sebesar 3,5 persen. Kontribusi ini menjadi amal jariyah dengan nilai pahala yang tak ternilai bagi para penggiling.

 

Namun di sisi lain, sikap enggan menggiling di pabrik sendiri menjadi ancaman serius. Hal itu sama saja dengan melemahkan bahkan menjatuhkan pabrik yang telah dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu. Padahal, pabrik kelompok tani ini merupakan satu-satunya yang masih bertahan di Lampung Tengah—warisan berharga yang seharusnya dijaga dengan penuh kebanggaan.

 

Dwi Hartoyo juga mengingatkan, jika bukan anggota yang menghidupkan pabrik ini, maka tidak ada pihak lain yang akan melakukannya. Bahkan, bagi anggota yang memilih menggiling di luar, hal itu dinilai sebagai bentuk kurangnya kepedulian terhadap sesama, terutama bagi warga yang tidak memiliki sawah atau gabah, karena dana sosial dari pabrik ini sejatinya kembali kepada masyarakat, termasuk keluarga sendiri.

 

Sebagai bentuk komitmen pelayanan, pihak pabrik telah menyiapkan tenaga kerja yang siap menjemput dan mengantar hasil penggilingan, demi memberikan kemudahan bagi anggota dan masyarakat.

 

Kini, pilihan ada di tangan bersama: “memperkuat dan memakmurkan pabrik milik kelompok tani, atau membiarkannya perlahan runtuh”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *