Pendekar Banten Kota Metro Bersatu Lawan Narkoba: 15 Kg Sabu Digagalkan di Bakauheni, Polda Lampung Selamatkan Generasi, Seruan Keras H. Tb Ismail Saleh, SH

Lampung — Peredaran narkoba di Lampung kembali mengguncang kesadaran publik. Pengungkapan penyelundupan 15 kilogram sabu di Bakauheni oleh Polda Lampung bukan sekadar penangkapan, melainkan penyelamatan besar-besaran terhadap masa depan generasi muda.

 

Di tengah situasi yang kian mengkhawatirkan, Pendekar Banten Kota Metro melalui H. Tb Ismail Saleh, SH angkat suara dengan nada tegas dan penuh keprihatinan.

“Astaghfirullahal ‘Adzim… darurat narkoba ini luka kita semua. 15 kg sabu itu bukan angka kecil. Itu ribuan nyawa anak muda yang mau dirusak, ribuan keluarga yang mau dihancurkan,” tegasnya.

 

Bakauheni sebagai gerbang utama Sumatera dinilai sangat strategis. Jika jalur ini ditembus jaringan narkoba, maka Lampung berpotensi menjadi target empuk peredaran gelap. Situasi ini diperparah dengan langkah GANNAS yang sampai melayangkan somasi kepada Prabowo Subianto, menandakan kondisi sudah berada di titik lampu merah.

 

Namun bagi dunia persilatan, ini bukan sekadar isu nasional, ini adalah panggilan moral.

 

Menurut H. Tb Ismail Saleh, hubungan antara silat, IPSI, dan perang melawan narkoba sangat erat dan tidak bisa dipisahkan:

 

Pertama, sasana adalah benteng pertama.

Anak muda harus ditarik dari lingkungan negatif menuju gelanggang latihan. Keringat, disiplin, dan tujuan hidup seperti kejuaraan menjadi tameng dari godaan narkoba.

 

Kedua, pelatih adalah orang tua kedua.

Di luar rumah, pelatih bukan hanya mengajarkan jurus, tapi juga adab, disiplin, dan nilai spiritual. Hati yang dekat dengan Tuhan tidak akan mudah dirasuki narkoba.

 

Ketiga, prestasi adalah “vaksin” paling ampuh.

Atlet Shokaido Lampung yang meraih emas dalam Kejurnas 9–12 April di PKOR menjadi bukti nyata. Generasi yang punya mimpi besar tidak akan menukar masa depannya dengan “emas semu” narkoba.

 

Keempat, IPSI wajib pasang badan.

Dengan semangat Bela Diri, Bela Bangsa, Bela Negara, organisasi seperti yang dipimpin Faishol Djausal dan Sugiono didorong menjadi garda depan gerakan selamatkan generasi dari narkoba.

 

Pendekar Banten juga menegaskan bahwa perang melawan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan aparat. Masyarakat harus menjadi bagian dari solusi.

 

Langkah konkret pun diserukan: memperbanyak event olahraga seperti Gubernur Cup, membuka sasana hingga pelosok, menggabungkan latihan silat dengan pembinaan spiritual, serta membangun kolaborasi dengan aparat dan lembaga seperti BNN dan GANNAS.

“Kami siap. Sasana kami terbuka untuk menyelamatkan anak bangsa. Daripada mati muda karena sabu, lebih baik keringat habis di gelanggang demi prestasi,” lanjutnya.

 

Keberhasilan Polda Lampung menggagalkan peredaran 15 kg sabu ini menjadi momentum penting. Bukan hanya kemenangan hukum, tetapi juga alarm keras bagi seluruh elemen bangsa bahwa ancaman narkoba sudah berada di depan mata.

 

15 kg sabu di Bakauheni bukan sekadar barang bukti itu alasan untuk bertindak lebih keras, lebih tegas, dan lebih bersatu melawan narkoba.

 

IPSI Jaya, Indonesia Bebas Narkoba.

Pendekar Banten, Pendekar Anti Narkoba.

Lindungi generasi, selamatkan masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *