Empat Qillat, Jalan Menjernihkan Hati: Kurangi Makan, Tidur, Bicara dan Pergaulan yang Melalaikan

METRO — Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi kesibukan, hiruk-pikuk media sosial, dan berbagai bentuk hiburan, umat Islam diajak kembali merenungkan satu hal yang sering terlupakan: menjaga kebersihan hati dan kedekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam tradisi suluk dan tasawuf, dikenal nasihat tentang “4 Qillat”, yakni empat perkara yang perlu dikurangi secara bijaksana agar hati lebih ringan, lisan lebih terjaga, waktu lebih berkah, dan kehidupan semakin dekat dengan nilai-nilai ketakwaan.

Empat perkara tersebut adalah Qillatul Ikhtilath, Qillatul Kalam, Qillatut Tha’am, dan Qillatul Manam, mengurangi pergaulan yang melalaikan, mengurangi bicara yang tidak perlu, mengurangi makan berlebihan, serta mengurangi tidur berlebihan.

Pertama, Qillatul Ikhtilath

Qillatul Ikhtilath bermakna mengurangi pergaulan yang tidak membawa manfaat bagi kehidupan ruhani.

Bukan berarti seseorang harus memutus silaturahmi atau menjauh dari masyarakat. Justru Islam mengajarkan pentingnya hubungan sosial. Namun, seorang Muslim perlu memilih lingkungan yang dapat menjaga hati dan mengingatkan dirinya kepada Allah.

Bergaul dengan orang-orang saleh, menghadiri majelis ilmu, dan berada di lingkungan yang menghidupkan dzikir dapat menjadi sarana untuk memperkuat keimanan.

Sebaliknya, pergaulan yang dipenuhi gosip, pertengkaran, kesia-siaan, atau penggunaan media sosial secara berlebihan dapat membuat seseorang semakin larut dalam kelalaian.

Kedua, Qillatul Kalam

Yang kedua adalah Qillatul Kalam, yakni mengurangi perkataan yang tidak diperlukan.

Lisan merupakan salah satu amanah terbesar. Tidak semua yang diketahui harus disampaikan dan tidak semua yang didengar harus diteruskan.

Karena itu, seorang Muslim dianjurkan menjaga lisannya dari perkataan sia-sia, memperbanyak membaca Al-Qur’an, bershalawat, berdzikir, membaca kitab dan hadits, serta membiasakan perkataan yang baik dan bermanfaat.

Diam bukan berarti tidak peduli. Terkadang diam justru menjadi bentuk penjagaan diri agar lisan tidak melukai orang lain dan hati tidak semakin jauh dari Allah.

Ketiga, Qillatut Tha’am

Berikutnya adalah Qillatut Tha’am, yaitu mengurangi makan secara berlebihan.

Islam tidak mengajarkan umatnya menyiksa diri atau meninggalkan makanan. Namun, Islam mengajarkan keseimbangan dan melarang sikap berlebih-lebihan.

Rasulullah SAW mengajarkan prinsip sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk udara.

Makan secukupnya diharapkan membuat tubuh tetap ringan dan mampu digunakan untuk beribadah serta menjalankan tanggung jawab kehidupan.

Bagi yang mampu, puasa sunnah juga dapat menjadi latihan untuk mengendalikan hawa nafsu sekaligus mendidik kesabaran.

Keempat, Qillatul Manam

Terakhir adalah Qillatul Manam, yaitu mengurangi tidur yang berlebihan.

Tidur merupakan kebutuhan manusia dan bagian dari menjaga kesehatan. Namun, jangan sampai tidur berubah menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban atau melewatkan waktu-waktu utama untuk beribadah.

Malam hari dapat menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat malam, membaca Al-Qur’an, dzikir dan doa.

Tidak harus banyak. Yang terpenting adalah dilakukan dengan kemampuan dan istiqamah.

Bukan Mengurangi Semata, tetapi Mengarahkan Hati

Empat Qillat tersebut pada hakikatnya bukan ajaran untuk menyiksa diri.

Makan dikurangi agar tidak berlebihan.
Tidur dikurangi agar waktu lebih bernilai.
Bicara dikurangi agar lisan lebih terjaga.
Pergaulan yang melalaikan dikurangi agar hati tetap hidup.

Kemudian semuanya diarahkan kepada perkara yang lebih bermanfaat.

Makan diimbangi dengan kesederhanaan dan puasa sunnah. Tidur disisakan untuk qiyamullail. Bicara digantikan dengan dzikir dan perkataan yang baik. Sementara pergaulan yang melalaikan digantikan dengan majelis ilmu dan kebersamaan dengan orang-orang saleh.

Pada akhirnya, tujuan dari latihan tersebut bukan sekadar menjadi orang yang sedikit makan, sedikit tidur, atau sedikit berbicara.

Tujuannya adalah membentuk hati yang lebih bersih, lisan yang lebih terjaga, waktu yang lebih berkah, dan kehidupan yang semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di tengah derasnya arus kehidupan modern, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia tidak hanya membutuhkan kesibukan dunia, tetapi juga membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak, menundukkan hati, bermuhasabah dan kembali mengingat Sang Pencipta.

Sebab, ketika hati mulai dipenuhi dzikir dan kehidupan dijalani dengan keseimbangan, seorang Muslim diharapkan mampu menghadapi dunia tanpa kehilangan arah menuju akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *