Lampung Tengah — Penjabat Kepala Kampung (Pj Kakam) Pujo Basuki, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, Candra Dipa Resta, menyatakan sikap tegas dengan mengutuk keras aktivitas penebangan pohon rengas di bantaran anak sungai yang berdampak langsung pada lingkungan dan masyarakat.

Pada Minggu, 05 April 2026, Candra menegaskan kekecewaannya atas kejadian tersebut, mengingat dampak yang ditimbulkan sudah menghambat aliran air sungai akibat tumpukan kayu dan ranting bekas penebangan.
“Saya sangat kecewa dengan adanya penebangan ini karena berdampak langsung pada saluran air. Sungai menjadi tersumbat oleh potongan kayu,” tegasnya.
Ia menjelaskan, informasi terkait penebangan baru diterimanya pada Kamis, 03 April 2026, setelah adanya laporan dari aparat kampung mengenai kondisi sungai yang dipenuhi material kayu.
Sejak menerima laporan tersebut, Pj Kakam langsung bergerak cepat dengan melakukan koordinasi lintas pihak.
“Saya juga sudah berkoordinasi dengan forkopimcam terkait itu serta telah melapor dengan Bapak Camat Trimurjo. Untuk diketahui, setelah hari Kamis tanggal 3 saya baru dapat laporan, hari Jumat sampai Sabtu saya selalu ada di kampung. Bahkan kemarin hari Sabtu saya bersama Bapak Camat menemui warga di lokasi kejadian,” jelas Candra.
Tidak hanya koordinasi, langkah konkret juga langsung dilakukan di lapangan. Ia telah memerintahkan aparat kampung dan warga untuk melakukan pembersihan guna mengangkat kayu dan ranting yang menyumbat aliran sungai.
Upaya ini merupakan bagian dari normalisasi saluran air, agar fungsi sungai kembali berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan risiko lanjutan seperti banjir atau gangguan pada lahan pertanian masyarakat.
Selain itu, aparat kampung juga ditugaskan untuk menelusuri pihak-pihak yang mengetahui maupun yang diduga terlibat dalam aktivitas penebangan tersebut.
Meski penanganan dampak telah berjalan, hingga saat ini konfirmasi lanjutan dari pihak media belum mendapatkan respons tambahan, sehingga sejumlah pertanyaan terkait asal-usul penebangan masih menjadi sorotan publik.
Warga berharap pemerintah kampung tidak hanya fokus pada pembersihan dampak, tetapi juga mampu mengungkap secara terang siapa pelaku di balik penebangan pohon rengas tersebut, guna mencegah kejadian serupa terulang.
Peristiwa ini menjadi peringatan serius bahwa pengawasan lingkungan, khususnya di bantaran sungai, harus diperketat, serta koordinasi antar pihak harus terus diperkuat demi menjaga keseimbangan alam dan kepentingan masyarakat.







