Sholat Dhuhur Berjamaah di Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, Menemukan Ketenangan di Tengah Hiruk Pikuk Batam

Batam  —  Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan, selalu ada ruang untuk berhenti sejenak, menenangkan hati, dan kembali mengingat Sang Pencipta. Salah satunya melalui sholat Dhuhur berjamaah di Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, Kota Batam, Kepulauan Riau.

 

Menunaikan ibadah secara berjamaah tidak sekadar menjadi kewajiban seorang Muslim, tetapi juga menghadirkan suasana kebersamaan, ketenangan, dan persaudaraan. Saf-saf yang berdiri sejajar menjadi pengingat bahwa di hadapan Allah SWT, manusia tidak dibedakan oleh jabatan, pekerjaan, kekayaan maupun latar belakang.

 

Sabtu, 12 September 2026, suasana Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah kembali memberikan kesan tersendiri bagi siapa pun yang datang untuk melaksanakan sholat Dhuhur berjamaah. Kemegahan bangunan berpadu dengan suasana ibadah yang khusyuk, menciptakan ruang spiritual yang menenangkan hati.

 

Dwi Hartoyo mengatakan, sholat berjamaah memiliki pesan moral dan spiritual yang sangat kuat. Menurutnya, masjid bukan hanya tempat untuk menunaikan ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun karakter manusia agar semakin rendah hati, disiplin, peduli dan menghargai sesama.

“Ketika kita berdiri dalam satu saf, tidak ada lagi sekat antara yang kaya dan yang sederhana, pejabat dan masyarakat biasa. Semuanya sama-sama menghadap Allah SWT. Dari sinilah kita belajar tentang persamaan, kedisiplinan, ketundukan dan persaudaraan,” ujar Dwi Hartoyo.

 

Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah sendiri merupakan salah satu ikon religi Kota Batam. Pembangunannya dimulai pada 30 April 2017 dan kemudian diresmikan pada 20 September 2019. Masjid tersebut digagas pada masa kepemimpinan Wali Kota Batam Muhammad Rudi sebagai bagian dari pembangunan ikon kota sekaligus destinasi wisata religi.

 

Pembangunannya menggunakan anggaran sekitar Rp400 miliar dari APBD Kota Batam secara tahun jamak (multi-years). Nama masjid diambil dari Sultan Mahmud Riayat Syah, pahlawan nasional asal Kepulauan Riau, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan jasa beliau.

 

Dari sisi arsitektur, masjid ini memiliki karakter yang kuat dengan perpaduan unsur Melayu, Arab dan Turki. Delapan payung membran setinggi sekitar 17 meter menjadi salah satu ciri khasnya, mengingatkan pada suasana sejumlah kawasan masjid di Tanah Suci.

 

Masjid tersebut juga memiliki menara pandang setinggi sekitar 99 meter yang menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan. Dari ketinggian itu, pengunjung dapat menikmati panorama Kota Batam hingga pemandangan ke arah Singapura.

 

Dengan luas lahan lebih dari empat hektare dan kapasitas hingga sekitar 25.000 jemaah, masjid ini bukan hanya menjadi bangunan monumental, tetapi diharapkan mampu menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial dan pembentukan karakter masyarakat.

 

Namun, kemegahan sebuah masjid pada akhirnya bukan hanya dinilai dari besarnya bangunan, tingginya menara atau keindahan arsitekturnya. Nilai paling penting justru terletak pada sejauh mana masjid mampu menghidupkan hati manusia dan melahirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sholat berjamaah semestinya tidak berhenti ketika salam diucapkan. Nilai-nilai yang diperoleh dari dalam masjid harus dibawa kembali ke tengah masyarakat—menjadi kejujuran dalam bekerja, kesabaran dalam menghadapi persoalan, kepedulian kepada orang lain serta keberanian untuk menjauhi perbuatan yang merugikan sesama.

 

Pesan moralnya sederhana: semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin baik pula perilakunya kepada manusia.

 

Masjid yang megah akan semakin bermakna apabila diiringi jamaah yang memakmurkannya. Dan sholat berjamaah akan semakin indah apabila setelah keluar dari masjid, setiap orang membawa pulang satu tekad: menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih peduli terhadap sesama.

 

Sebab, ibadah bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan setelah kembali dari hadapan-Nya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *