BATAM — Ribuan lalat beterbangan dan mengerubungi salah satu titik rumah di kawasan Perumahan Gesya Eternal Madina. Kondisi ini bukan lagi sekadar persoalan rasa risih, tetapi mulai menimbulkan keresahan penghuni karena lalat dengan mudah hinggap pada makanan dan lingkungan sekitar.

Persoalan tersebut dirasakan langsung Dwi Hartoyo ketika mengunjungi anaknya di perumahan tersebut, Jumat, 11 September 2026. Ia melihat keberadaan lalat dalam jumlah sangat banyak yang diduga berkaitan dengan kondisi sampah dan saluran drainase di sekitar kawasan.
Menurut Dwi, kondisi seperti ini tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan kecil. Jika sumber berkembang biaknya lalat tidak segera ditemukan dan dikendalikan, populasi serangga tersebut dikhawatirkan terus meningkat dan mengganggu kenyamanan serta kebersihan lingkungan hunian.
“Ini harus menjadi perhatian. Jangan menunggu masyarakat benar-benar terganggu atau muncul persoalan kesehatan baru kemudian bergerak. Kalau memang ada sumber yang menyebabkan lalat berkembang, harus dicari dan ditangani,” tegas Dwi.
Ia mempertanyakan sejauh mana pengelolaan kebersihan lingkungan di kawasan tersebut. Sebab, keberadaan lalat dalam jumlah besar semestinya menjadi tanda bahwa terdapat persoalan lingkungan yang perlu diperiksa, mulai dari pengelolaan sampah, kebersihan saluran drainase hingga kemungkinan adanya titik lain yang menjadi tempat berkembang biaknya lalat.
Bukan sekadar membunuh lalat yang beterbangan, tetapi sumber masalahnya yang harus dibongkar.
Dwi meminta pengembang maupun pemerintah setempat tidak saling menunggu. Pemeriksaan lapangan dan langkah pengendalian dinilai perlu dilakukan agar populasi lalat dapat ditekan secara nyata.
“Setidaknya ada upaya pengendalian atau pemberantasan lalat. Kalau belum bisa diberantas seluruhnya, minimal populasinya dikurangi. Masyarakat ingin tinggal di lingkungan yang bersih, sehat dan menyenangkan,” ujarnya.
Menurutnya, makanan yang terbuka menjadi persoalan tersendiri. Lalat dengan mudah hinggap pada makanan yang sedang disajikan sehingga membuat penghuni merasa tidak nyaman ketika makan.
Kondisi tersebut sekaligus memunculkan sejumlah pertanyaan yang patut dijawab pihak terkait: Dari mana sumber lalat tersebut? Bagaimana kondisi drainase di titik yang dikeluhkan? Bagaimana pengelolaan sampahnya? Apakah sudah pernah dilakukan pemeriksaan lingkungan? Dan siapa yang bertanggung jawab melakukan pengendalian apabila populasi lalat terus meningkat?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting agar persoalan tidak berhenti pada keluhan warga.
Kebersihan perumahan bukan sekadar urusan estetika. Lingkungan yang bersih merupakan bagian dari kenyamanan dan perlindungan masyarakat.
Karena itu, Dwi mendesak agar segera ada tindakan nyata: berantas, kendalikan, tekan populasinya, dan benahi sumber yang diduga menjadi tempat berkembang biaknya lalat.
Jangan sampai kawasan hunian yang seharusnya menjadi tempat beristirahat dan membangun kehidupan keluarga justru menghadirkan keresahan akibat persoalan kebersihan yang tidak segera ditangani.
Awak media masih berupaya meminta konfirmasi kepada pihak pengembang Perumahan Gesya Eternal Madina dan Dinas Kesehatan setempat terkait kondisi tersebut, termasuk langkah yang akan dilakukan untuk menanggulangi persoalan lalat dan kebersihan lingkungan.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi seluruh pihak yang disebut maupun berkepentingan dalam pemberitaan ini.







