Opini Dwi Hartoyo
Kamis, 25 Desember 2025
Bandar Rejo, Natar — Natal kembali hadir di tengah bangsa yang majemuk. Namun, pertanyaannya sederhana sekaligus menohok: apakah toleransi masih hidup dalam praktik keseharian kita, atau hanya tinggal slogan yang kehilangan makna?
Indonesia dibangun bukan dari satu warna, satu iman, atau satu suara. Ia berdiri kokoh karena perbedaan yang dirajut menjadi persatuan. Sayangnya, hari-hari ini toleransi kerap diuji bahkan dipertaruhkan oleh sikap eksklusif, ujaran kebencian, dan kecenderungan menilai orang lain hanya dari identitasnya.
Perayaan Natal seharusnya tidak berhenti pada seremoni keagamaan. Ia mesti menjadi pengingat bahwa kasih, damai, dan persaudaraan adalah nilai universal. Nilai-nilai inilah yang semestinya menuntun cara kita hidup berdampingan sebagai sesama anak bangsa.
Silaturahmi adalah jembatan yang paling jujur untuk merawat toleransi. Dengan bertemu, menyapa, dan duduk bersama, sekat-sekat prasangka runtuh dengan sendirinya. Tanpa silaturahmi, perbedaan mudah disulut menjadi kecurigaan. Tanpa perjumpaan, toleransi perlahan pudar.
Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan yang terpajang di lambang negara.
Ia adalah tanggung jawab moral setiap warga. Ketika kita membiarkan intoleransi tumbuh sekecil apa pun saat itulah cahaya persatuan mulai redup.
Kita tidak boleh lelah menjaga kebersamaan. Bangsa ini terlalu berharga untuk dikorbankan oleh ego sempit dan fanatisme buta.
Toleransi harus diperjuangkan setiap hari, lewat sikap, tindakan, dan keteladanan bukan hanya lewat kata-kata indah.
Natal 2025 menjadi momentum refleksi: apakah kita masih mau membuka pintu bagi yang berbeda? Masihkah kita mau saling menghormati tanpa syarat?
Jika jawabannya iya, maka tugas kita jelas rawat silaturahmi, jaga toleransi, dan biarkan Bhinneka Tunggal Ika bersinar semakin terang, dari rumah-rumah kecil hingga ruang publik bangsa ini.



