780 Warga Gubug Diduga Keracunan Massal Program Makan Bergizi Gratis, Ratusan Jalani Perawatan Intensif

GROBOGAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang kesehatan justru berubah menjadi petaka. Dugaan keracunan massal di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kian mengkhawatirkan. Hingga Sabtu (11/1/2026), jumlah korban melonjak tajam dan menembus angka 780 orang.

Angka tersebut merupakan bagian dari total 2.904 penerima manfaat program MBG di wilayah itu. Lonjakan korban menunjukkan dampak luas dan serius dari konsumsi menu makanan yang dibagikan, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar soal pengawasan dan standar keamanan pangan program pemerintah.

Dari ratusan korban tersebut, 156 orang terpaksa menjalani penanganan medis intensif. Otoritas kesehatan setempat menyebutkan, sebagian korban harus dirawat inap di fasilitas kesehatan terdekat, sementara lainnya menjalani rawat jalan setelah kondisi dinyatakan stabil oleh tim medis.

Fakta lain yang mencuat, paket makanan MBG tersebut diketahui dipasok oleh SPPG Sami Kaya Food, perusahaan katering yang beralamat di Jalan Raya Gubug–Kedungjati KM 2, Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug. Peran penyedia makanan kini menjadi sorotan tajam seiring membesarnya jumlah korban.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti dugaan keracunan massal masih dalam tahap penyelidikan. Sampel makanan telah diamankan dan dikirim ke laboratorium untuk diuji, guna memastikan ada atau tidaknya kontaminasi bakteri, zat berbahaya, maupun pelanggaran standar higienitas pangan.

Pemerintah Kabupaten Grobogan bersama instansi terkait menyatakan terus memantau perkembangan kondisi para korban. Insiden ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaksana Program Makan Bergizi Gratis agar tidak main-main dalam urusan kebersihan, kualitas, dan keamanan pangan, terutama yang menyangkut kesehatan masyarakat luas.

Masyarakat diimbau tetap waspada dan segera melapor ke posko kesehatan terdekat apabila menemukan gejala serupa pada penerima manfaat lainnya. Kasus ini bukan sekadar insiden, melainkan alarm keras bagi tata kelola program publik yang menyentuh langsung hajat hidup orang banyak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *