Kartini Jangan Cuma Seremoni! GOW Lampung Tengah Diuji: Perempuan Berdaya atau Sekadar Panggung Tahunan?

 

Lampung Tengah — Peringatan Hari Kartini ke-147 yang digelar Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Lampung Tengah kembali berlangsung meriah. Halalbihalal, fashion show, hingga panggung kebersamaan tersaji rapi di Gedung Sesat Agung Nuwo Balak. Selasa, 21/04/2026.

Namun pertanyaannya sederhana dan tajam:
apakah ini benar-benar tentang perjuangan perempuan, atau sekadar rutinitas seremonial tahunan?

Di tengah gegap gempita acara, realitas perempuan di lapangan belum sepenuhnya seindah panggung. Masih banyak perempuan yang bergulat dengan keterbatasan ekonomi, akses pendidikan, hingga minimnya ruang pengambilan keputusan. Kartini diperjuangkan dengan gagasan bukan hanya gaun dan panggung.

Plt Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, SE,. S. Sos dalam sambutannya menekankan pentingnya perempuan sebagai motor pembangunan. Pernyataan ini tepat, tetapi publik kini menuntut lebih dari sekadar kata-kata.
Di mana kebijakan konkret yang benar-benar memihak perempuan?
Seberapa besar keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan strategis di daerah?

Acara seperti ini seharusnya menjadi titik evaluasi, bukan sekadar selebrasi. Sebab jika peringatan Kartini hanya berhenti pada seremoni, maka nilai perjuangan R.A. Kartini perlahan akan kehilangan makna.

Lomba fashion show dan kegiatan sosial memang memberi warna, tetapi esensi pemberdayaan tidak boleh berhenti pada simbol. Perempuan berdaya bukan dilihat dari penampilan di panggung, melainkan dari akses, kesempatan, dan keberanian mengambil peran nyata.

Ketua GOW Lampung Tengah menyebut momentum ini sebagai refleksi perjuangan. Pernyataan itu benar tetapi refleksi tanpa aksi hanya akan menjadi gema kosong dari tahun ke tahun.

Lampung Tengah butuh lebih dari seremoni.
Butuh kebijakan yang berpihak, program berkelanjutan, dan keberanian membuka ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk memimpin bukan sekadar tampil.

Pesan kerasnya jelas:
Jika Kartini hari ini hanya dirayakan tanpa perubahan nyata, maka kita sedang merayakan simbol, bukan melanjutkan perjuangan. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *