Metro — Nada keras dan tegas datang dari Ketua Pendekar Banten Metro, H. Tb. Ismail Saleh. Ia melontarkan kritik tajam kepada Pemerintah Provinsi Lampung atas mangkraknya pembangunan GOR Lampung yang telah terbengkalai selama tiga tahun tanpa kepastian.
Dalam pernyataan sikap resmi pada Rabu, 22 April 2026, Pendekar Banten menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan ancaman nyata terhadap masa depan olahraga dan harga diri daerah, terlebih menjelang PON 2032 yang tinggal enam tahun lagi.
“Fakta di lapangan jelas, GOR mangkrak, atlet latihan seadanya. Tapi prestasi tetap berjalan. Kami buktikan di Gubernur Cup 2026. Ini bukan karena fasilitas, tapi karena mental. Pertanyaannya: sampai kapan atlet dipaksa berjuang tanpa dukungan layak?” tegas Ismail.
Ia menyebut, waktu enam tahun menuju PON bukanlah waktu panjang jika pemerintah masih lamban. Tanpa venue yang siap dan standar, Lampung berisiko gagal total sebagai tuan rumah.
“Kalau GOR terus mangkrak, mau ditaruh di mana mimpi anak-anak Lampung? Jangan bangun gedung mati! Libatkan atlet dan pelatih dalam perencanaan. Kami yang bertarung di lapangan, bukan sekadar jadi penonton kebijakan,” lanjutnya dengan nada keras.
Pendekar Banten juga mendesak transparansi anggaran dan langkah konkret dari pemerintah. Menurut mereka, prestasi tidak hanya butuh doa, tetapi juga dukungan dana yang amanah dan tepat sasaran.
Selain itu, solusi jangka pendek juga dituntut: penyediaan akses ke GOR alternatif, fasilitas latihan yang memadai, serta kebutuhan dasar seperti listrik dan air yang stabil.
“Jangan salah paham. Kami tidak minta dikasihani. Kami minta difasilitasi! Ini soal tanggung jawab negara terhadap atletnya. Jangan sampai sejarah mencatat Lampung gagal di PON 2032 hanya karena GOR mangkrak tiga tahun,” tegasnya lagi.
Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan di Lampung, mulai dari Gubernur, DPRD, hingga Dinas Pemuda dan Olahraga, untuk segera bergerak, bukan sekadar berjanji.
Menutup pernyataannya, Ismail menyampaikan pesan yang menggugah sekaligus menekan:
“Kuat, sabar, tawakal, itu prinsip kami. Tapi diam adalah kezaliman bagi mimpi anak-anak. Karena itu, kami bersuara!”, pungkasnya.






