Petani Menjerit! Tikus Mengganas, Kompor Belerang Jadi Andalan—Pemerintah Diminta Jangan Tutup Mata

 

Trimurjo — Ancaman gagal panen kembali menghantui para petani padi di wilayah Trimurjo Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah. Serangan hama tikus yang semakin masif membuat petani tak punya banyak pilihan selain bertindak cepat dan nyata di lapangan. Jumat, 24 April 2026.

Sekitar 100 meter mendapatkan 19 ekor tikus

Berbeda dengan metode pengendalian yang selama ini dinilai kurang efektif seperti pemberian pakan beracun atau cara-cara lain yang hasilnya tak signifikan, petani kini membuktikan sendiri bahwa penggunaan kompor belerang jauh lebih ampuh. Dalam praktiknya, tikus-tikus benar-benar mati di sarangnya, bukan sekadar berpindah atau hilang sementara.

 

 

Tanaman padi usia tanam 25 hari komplek dinas perikanan dan peternakan di kelurahan Trimurjo terserang hama tikus

Wagino (74), petani asal BD 5 Kelurahan Trimurjo, menyampaikan keluh kesahnya dengan nada tegas. Ia berharap pemerintah, khususnya dinas pertanian, tidak lagi setengah hati dalam membantu petani menghadapi hama tikus yang kian merajalela.

“Kalau hanya mengandalkan cara lama, kami bisa habis. Ini bukan coba-coba lagi, kompor belerang terbukti. Dalam jarak sekitar 100 meter saja, kami dapat 19 ekor tikus, bahkan banyak yang mati di dalam lubang dan tidak keluar,” ungkap Wagino.

“Kemarin disawah yang satunya mendapatkan sekitar 100 ekor tikus”, tambahnya Wagino.

 

Ia menjelaskan, kegiatan pengasapan dengan belerang dilakukan sejak pukul 14.00 WIB dan hasilnya langsung terlihat. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa metode tersebut layak didukung secara serius oleh pemerintah, bukan justru diabaikan.

Para petani pun mendesak agar PPL UPTD Trimurjo dan pemerintah setempat turun langsung ke lapangan, melihat kondisi riil yang terjadi. Mereka berharap ada perhatian konkret berupa bantuan pengadaan belerang serta pendampingan teknis yang berkelanjutan.

“Jangan tunggu kami gagal panen dulu baru turun. Kami butuh solusi sekarang, bukan janji,” tegas Wagino.

 

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa intervensi nyata, bukan hanya hasil panen yang terancam, tetapi juga ketahanan pangan masyarakat di tingkat lokal. Suara petani kini semakin keras tinggal apakah pemerintah mau benar-benar mendengar, atau kembali membiarkannya tenggelam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *