Metro — Di era tahun 80-an, Shopping Center Kota Metro pernah menjadi ikon perdagangan modern dan pusat denyut ekonomi masyarakat. Bangunan yang berdiri di jantung kota itu dahulu menjadi kebanggaan warga, simbol kemajuan, sekaligus wajah modernisasi Kota Metro.
Namun hari ini, kejayaan itu tinggal cerita. Shopping Center yang merupakan aset milik Pemerintah Kota Metro kini tampak renta, kusam, rusak, dan seperti dibiarkan mati perlahan dimakan usia. Atap bocor, dinding lapuk, lorong sepi, hingga kondisi bangunan yang disebut-sebut membahayakan keselamatan pengunjung menjadi pemandangan yang memukul kesadaran publik.
Yang lebih menyakitkan, di tengah kondisi bangunan yang nyaris “ambruk secara moral dan fisik”, dugaan praktik pungutan liar (pungli) justru masih terus berhembus dan menjadi keluhan para pedagang. Ironi besar terjadi di pusat perdagangan yang seharusnya menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun kini justru dianggap sebagai simbol buruknya tata kelola aset daerah.
Shopping Center Metro bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi sejarah perjalanan ekonomi kota. Tetapi bertahun-tahun berlalu, publik menilai belum ada langkah konkret yang benar-benar serius untuk menyelamatkan kawasan tersebut. Wacana revitalisasi terus bergulir, namun kondisi di lapangan tetap memprihatinkan. Bahkan, muncul kritik keras bahwa pemerintah hanya pandai melempar konsep tanpa keberanian eksekusi nyata.
Di saat pusat-pusat perdagangan lain di berbagai daerah mulai bangkit melalui revitalisasi dan modernisasi, Shopping Center Metro justru terlihat tertinggal jauh. Banyak kios tutup, aktivitas perdagangan lesu, dan kawasan yang dulu hidup kini perlahan berubah menjadi ruang kosong penuh kenangan. Fenomena ini juga terjadi di sejumlah pusat perdagangan tua di Indonesia yang gagal beradaptasi dan akhirnya ditinggalkan masyarakat.
Publik kini menunggu keberanian Pemerintah Kota Metro: apakah Shopping Center akan benar-benar diselamatkan dan dihidupkan kembali, atau justru dibiarkan menjadi bangkai beton di tengah kota?
Sebab jika aset strategis di pusat kota saja tak mampu dirawat dan ditata dengan serius, maka yang runtuh bukan hanya bangunan tua tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola warisan daerahnya sendiri.






