Organisasi Masyarakat Adat Minahasa Tuama Le’os Minaesa terus memperkuat eksistensi dan soliditas organisasi melalui konsolidasi serta pembentukan kepengurusan di berbagai tingkatan, mulai dari provinsi, kabupaten dan kota, kecamatan hingga kelurahan atau wanua.

Sebagai Organisasi Adat Minahasa yang baru dibentuk, Tuama Le’os Minaesa menunjukkan keseriusan dalam membangun wadah pemersatu masyarakat adat Minahasa yang menjunjung tinggi nilai budaya, persaudaraan, serta pelestarian tradisi leluhur di Sulawesi Utara.
Di bawah kepemimpinan Tonaas Wangko Stenly Dirk yang akrab disapa Stedi, organisasi ini berkomitmen untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat adat Minahasa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan potensi daerah, serta menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Tuama Le’os Minaesa hadir bukan hanya sebagai organisasi adat, tetapi juga sebagai rumah besar bagi masyarakat untuk bersama-sama membangun persatuan, menjaga budaya, dan menciptakan generasi yang memiliki identitas serta karakter yang kuat,” ujar Stedi dalam agenda konsolidasi organisasi.

Menurutnya, pembentukan pengurus di setiap tingkatan memiliki tujuan untuk memperkuat koordinasi, mempererat hubungan antar anggota, serta memastikan program-program organisasi dapat berjalan secara maksimal hingga ke akar rumput.
Saat ini, konsolidasi organisasi terus dilakukan di berbagai wilayah, termasuk Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, wilayah Kairagi Kota Manado, Kota Bitung serta Karegesan Kec. Kauditan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah strategis organisasi dalam memperluas jaringan, memperkuat solidaritas anggota, serta menghadirkan organisasi adat yang aktif dan dekat dengan masyarakat.
Sekretaris Jenderal Rival Manuwu Wongkar menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian budaya daerah yang menjadi identitas masyarakat Sulawesi Utara. Menurutnya, kekayaan budaya seperti tarian Kawasaran, Tarian Salo Tari Maengket, seni Masamper, musik tradisional, hingga berbagai adat istiadat lokal harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

“Budaya adalah jati diri masyarakat. Tarian Kawasaran, Tarian Salo, Tari Maengket, Masamper, Musik Bambu, Kolintang serta berbagai tradisi adat lainnya merupakan kekayaan yang harus dirawat bersama. Organisasi ini hadir untuk menjaga agar budaya Sulawesi Utara tetap hidup dan dikenal luas,” ungkap Rival Manuwu Wongkar.
Selain fokus pada pelestarian budaya, Tuama Le’os Minaesa juga mendorong terciptanya kepemimpinan yang humanis, demokratis, dan mengedepankan kebersamaan dalam organisasi.
Dalam semangat persatuan, organisasi tersebut mengajak seluruh pengurus dan anggota untuk menjadikan jabatan sebagai amanah serta tanggung jawab, bukan alat untuk menunjukkan kekuasaan.
“Jabatan hanyalah titipan, kepercayaan dan tanggung jawab. Jangan ada sikap arogan ketika dipercayakan jabatan tertentu. Mari belajar menjadi pemimpin yang bisa menjadi teladan dan panutan, lebih mengutamakan kepemimpinan yang demokratis serta mengedepankan transparansi daripada sikap otoriter agar semua merasa nyaman untuk berjuang bersama-sama,” demikian pesan yang disampaikan dalam konsolidasi tersebut.

Dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan, Tuama Le’os Minaesa optimistis mampu menjadi organisasi adat yang membawa dampak positif bagi masyarakat serta menjadi garda terdepan dalam menjaga adat dan budaya Minahasa di Sulawesi Utara.
#TuamaLe’osMinaesa
#DudukSamaRendah
#BerdiriSamaTinggi
#BersatuTorangKuat
#TuamaLeosMinaesa
#KecamatanAirmadidi
_Red_ FRT_

