Oleh: Hartoyo – Wartawan Yunior/Kaperwil Lampung
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan derasnya arus pencitraan di media sosial, masyarakat sesungguhnya tidak sedang membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara di podium atau gemar berfoto saat seremoni. Rakyat hanya ingin satu hal sederhana: hadirnya sosok pemimpin yang peduli, mau mendengar, dan benar-benar bekerja untuk masyarakatnya.
Hari ini, banyak warga mulai lelah melihat fenomena pemimpin “anget tai ayam”. Semangat di awal menjabat begitu membara, program diumumkan ke sana kemari, spanduk dipasang, janji ditebar. Namun seiring waktu, semuanya perlahan menghilang tanpa jejak. Program berhenti di tengah jalan, semangat memudar, sementara masyarakat kembali berjalan sendiri memikul persoalan hidupnya.
Lebih menyedihkan lagi ketika muncul tipe pemimpin yang hanya menjalankan tugas sebatas formalitas. Datang ke kantor, tanda tangan berkas, menghadiri acara, lalu merasa kewajibannya selesai. Padahal seorang pemimpin bukan sekadar pegawai administratif. Di pundaknya ada amanah rakyat, ada tangisan masyarakat kecil, ada harapan petani, pemuda, ibu rumah tangga, hingga anak-anak yang ingin melihat kampungnya maju.
Ketika jalan rusak dibiarkan, sampah menumpuk tanpa solusi, irigasi tersumbat hingga sawah terendam, pemuda kehilangan arah, dan masyarakat kecil sulit mengadu, di situlah rakyat mulai bertanya dalam hati: “Masih adakah pemimpin yang benar-benar memikirkan kami?”
Pemimpin sejati bukan yang paling sering tampil, tetapi yang paling terasa manfaatnya. Ia tidak menunggu viral untuk bergerak. Tidak menunggu pujian untuk bekerja. Dan tidak sibuk mencari alasan ketika rakyat membutuhkan kehadiran.
Sejarah selalu mencatat bahwa kehancuran sebuah daerah bukan semata karena kemiskinan atau kurangnya anggaran, melainkan karena hilangnya kepedulian dari para pemangku kebijakan. Sebab rakyat bisa menerima keterbatasan, tetapi sulit menerima ketidakpedulian.
Jabatan hanyalah titipan sementara. Kursi kekuasaan tidak akan dibawa mati. Namun doa masyarakat, air mata rakyat kecil, dan jejak pengabdian akan menjadi catatan yang tak pernah hilang, baik di mata manusia maupun di hadapan Tuhan.
Pemimpin yang baik adalah mereka yang berani turun ke bawah tanpa menunggu kamera. Mau mendengar tanpa merasa paling benar. Mau bekerja tanpa harus selalu dipuji. Karena sejatinya, rakyat tidak butuh pemimpin sempurna. Rakyat hanya ingin dipimpin oleh hati yang masih memiliki rasa.
Semoga tulisan ini bukan sekadar kritik, melainkan cermin kecil agar para pemimpin kembali mengingat untuk apa mereka dipilih dan kepada siapa amanah itu harus dipertanggungjawabkan.






