Tak Lagi Bisa Ditutup-Tutupi: DPRD Metro Sepakat Bongkar Akar Banjir, 5 Poin Kesepakatan Jadi Alarm Keras untuk Pemkot

Metro  —  Krisis banjir yang berulang di wilayah Metro Selatan akhirnya mencapai titik didih. Pada Rabu, 22 April 2026, DPRD Kota Metro tidak lagi sekadar menjadi penonton. Lewat forum resmi, lima poin kesepakatan strategis ditegaskan, sebuah sinyal keras bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan dugaan kegagalan sistemik yang harus dibongkar hingga ke akar.

Gelombang tekanan publik, terutama dari para petani yang terus dirugikan akibat gagal panen, memaksa DPRD mengambil sikap lebih progresif. Banjir yang terus berulang disebut bukan kejadian baru, melainkan masalah lama yang tak pernah dituntaskan secara serius. Bahkan, ada indikasi kuat persoalan ini berkaitan dengan tata kelola lingkungan dan infrastruktur yang bermasalah sejak lama.

Dalam kesepakatan tersebut, DPRD menegaskan komitmen untuk membuka fakta sebenarnya di balik banjir yang selama ini seolah dibiarkan menjadi “rutinitas penderitaan” warga. Tidak hanya itu, DPRD juga mendorong investigasi menyeluruh terhadap penyebab utama banjir mulai dari dugaan kesalahan perencanaan, lemahnya pengawasan, hingga potensi kelalaian pihak terkait.

Sikap ini bukan tanpa alasan. Di lapangan, para petani telah mengalami kerugian berulang. Lahan pertanian terendam, hasil panen hancur dan harapan hidup semakin tergerus. Mereka datang ke gedung DPRD bukan sekadar mengeluh, tetapi menuntut tanggung jawab nyata dari pemerintah yang dinilai lamban dan kurang responsif.

Lebih tajam lagi, DPRD menyoroti adanya ketidaksinkronan data antara pemerintah dan kondisi riil di lapangan. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa persoalan banjir tidak hanya soal alam, tetapi juga lemahnya koordinasi dan akurasi kebijakan. Jika data saja tidak akurat, maka solusi yang diambil pun berpotensi salah arah.

Kesepakatan lima poin tersebut pada dasarnya menjadi garis batas: antara keseriusan atau kegagalan. DPRD kini berada di persimpangan apakah benar-benar berdiri di sisi rakyat dengan membongkar fakta, atau kembali terjebak dalam siklus rapat tanpa solusi.

Yang jelas, publik kini menunggu. Bukan lagi janji, bukan lagi seremoni. Melainkan tindakan nyata yang mampu mengakhiri lingkaran krisis yang selama ini membelenggu petani Metro Selatan.

Jika langkah tegas ini kembali mandek, maka bukan hanya banjir yang akan datang kembali, melainkan juga gelombang kemarahan rakyat yang jauh lebih besar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *