Metro — Ketua Pekar Banten Metro, H. Tb. Ismail Saleh, SH melontarkan seruan keras, tegas, dan penuh makna kepada seluruh anak didiknya jelang persiapan menuju ajang nasional. Tidak ada ruang untuk kemalasan, tidak ada tempat bagi mental lemah. Senin malam 20/04/2026.
Dengan nada lantang, ia menegaskan bahwa prestasi bukan hadiah yang jatuh dari langit.
“Jangan pernah bermimpi jadi juara kalau masih malas latihan! Medali itu bukan hujan, itu hasil dari tahajud yang basah air mata, dhuha yang konsisten, keringat yang jatuh di matras, dan disiplin yang tak bisa ditawar!” tegasnya.
Ia mengingatkan, kemenangan di Gubernur Cup bukanlah puncak, melainkan hanya pemanasan. Target sesungguhnya adalah Kejurnas, panggung pembuktian harga diri pendekar Metro dan Lampung.
Lebih dari sekadar bela diri, Ismail menanamkan filosofi keras dalam setiap jurus:
Bela diri bukan hanya melindungi tubuh, tapi menjaga diri dari maksiat dan kesombongan.
Bela bangsa adalah kewajiban, mengharumkan nama daerah di kancah nasional.
Bela negara adalah perang nyata melawan narkoba yang mengancam generasi muda.
NKRI harga mati, merah putih di dada, kiblat di sujud.
“Ini bukan sekadar silat! Ini jihad prestasi! Setiap tendangan kalian adalah benteng NKRI, setiap tangkisan adalah penjaga marwah ulama dan umaro!” serunya membakar semangat.
Ia bahkan menegaskan pola hidup disiplin yang tak bisa ditawar: bangun dini hari untuk tahajud, subuh mengaji, pagi menuntut ilmu, sore latihan keras dan malam istirahat sebagai pejuang.
Dalam doanya, Ismail menyampaikan harapan besar:
“Ya Allah, jadikan matras Kejurnas sebagai saksi. Anak-anak Metro datang bukan sekadar berburu medali, tapi membawa doa orang tua, harapan daerah, dan harga diri Lampung. Menang tetap rendah hati, kalah tetap bermartabat”, harapnya penuh semangat.
Pesan penutupnya tajam dan menghentak:
“Juara sejati bukan yang paling banyak medali. Juara sejati adalah yang pulang membawa akhlak, pengalaman, dan semangat untuk generasi berikutnya. Kalau itu kalian pegang, emas dunia dan akhirat akan mengikuti!”, ucapnya penuh keyakinan.
Seruan ini menjadi komando moral sekaligus cambuk keras bagi para pendekar muda.
“Berangkat dengan Bismillah, pulang wajib bawa amanah! Kuat, sabar, tawakal Indonesia!”, kobarkan semangat perjuangan dari Ketua Pendekar Banten.






