Lampung Tengah — Kepedulian sosial kembali ditunjukkan oleh pengurus Kelompok Tani F1 dan F2 di Kecamatan Trimurjo. Di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarga Farid Haryoto atas wafatnya ayahanda tercinta, Cokro Wiyono (74), pengurus kelompok tani hadir memberikan bantuan dan dukungan moril sebagai bentuk empati kepada sesama warga.
Almarhum Cokro Wiyono meninggal dunia pada Rabu, 27 Mei 2026, sekitar pukul 16.30 WIB dan dimakamkan pada malam harinya di TPU BD 4 Trimurjo sekitar pukul 20.30 WIB. Kehadiran pengurus kelompok tani bukan sekadar menyerahkan bantuan, tetapi juga menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan kebersamaan masih tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Ketua Kelompok Tani, Dwi Hartoyo, secara langsung menyerahkan bantuan duka kepada keluarga almarhum. Menurutnya, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian yang selama ini menjadi komitmen bersama pengurus dan anggota kelompok tani.
“Jangan dilihat dari besar kecil nilainya. Yang terpenting adalah kepedulian dan kebersamaan. Kami ingin selalu hadir ketika ada warga yang sedang mengalami kesulitan maupun musibah,” ujar Hartoyo, Sabtu (6/6/2026).
Hartoyo menjelaskan bahwa keberadaan pabrik penggilingan gabah milik kelompok tani tidak hanya berorientasi pada kegiatan ekonomi, tetapi juga memiliki misi sosial yang nyata. Sebagian hasil usaha yang diperoleh dari aktivitas penggilingan digunakan untuk membantu warga yang membutuhkan, mendukung kegiatan sosial kemasyarakatan, serta menunjang kegiatan keagamaan.
Menurutnya, semakin banyak petani yang mempercayakan penggilingan gabah kepada pabrik kelompok tani, maka semakin besar pula manfaat yang dapat dikembalikan kepada masyarakat.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa setiap gabah yang digiling di pabrik kelompok tani tidak hanya menghasilkan beras, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial bagi lingkungan sekitar. Ada nilai gotong royong, kepedulian, dan keberkahan yang ikut tumbuh bersama,” jelasnya.
Sebagai bentuk pelayanan kepada petani, pengurus juga berkomitmen memberikan kemudahan melalui layanan antar-jemput gabah hingga pengantaran beras langsung ke rumah warga. Program ini dihadirkan untuk membantu petani, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan sarana transportasi.
“Kami siap membantu warga tanpa membedakan siapa pun. Gabah dijemput, digiling menjadi beras, lalu kami antar kembali ke rumah. Harapannya, petani bisa lebih mudah, hemat tenaga, dan mendapatkan pelayanan yang baik,” tegas Hartoyo.
Ia juga mengajak masyarakat, khususnya warga RW 5 dan RW 6, untuk bersama-sama mendukung keberlangsungan usaha milik kelompok tani tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Sementara itu, Farid Haryoto, putra almarhum Cokro Wiyono, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan pengurus kelompok tani kepada keluarganya.
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas kepedulian pengurus dan anggota kelompok tani yang telah hadir memberikan dukungan serta bantuan. Semoga pabrik kelompok tani semakin maju, diberikan kelancaran, dan para pengurusnya selalu diberi kesehatan serta kesabaran dalam mengurus kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Kisah kepedulian ini menjadi pengingat bahwa keberadaan kelompok tani tidak hanya berfungsi sebagai wadah ekonomi bagi para petani, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu mempererat persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Di tengah tantangan kehidupan yang semakin kompleks, semangat gotong royong dan pengelolaan usaha yang amanah menjadi modal penting untuk membangun kesejahteraan bersama.







