Viral!!! Dugaan THR “Dipangkas” di Kota Metro Picu Amarah Warganet: Tanda Tangan Rp1,2 Juta, Cair Rp300 Ribu?

Kota Metro kembali diguncang sorotan tajam publik. Sebuah unggahan di Facebook melalui akun “Info Kota Metro” memicu gelombang kemarahan warganet setelah muncul dugaan ketidaksesuaian pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR). Sabtu, 21/03/2026.

Dalam postingan yang telah mengumpulkan 168 like, 165 komentar, dan dibagikan, salah satu akun menyebut adanya kejanggalan serius: tanda tangan penerimaan sebesar Rp1.200.000, namun dana yang diterima hanya Rp300.000. Dugaan ini langsung menyulut reaksi keras masyarakat.

Kolom komentar pun meledak. Warganet membandingkan kondisi tersebut dengan THR di sektor swasta yang dinilai jauh lebih layak.

“Gue pegawai swasta THR 4 juta, ini di pemerintahan 300 ribu, ini becanda apa gimana?” tulis salah satu netizen.

 

Tak hanya itu, kritik terhadap kinerja pemerintah daerah ikut bermunculan. Warga menyoroti kondisi infrastruktur yang dinilai memprihatinkan, mulai dari jalan rusak, trotoar terbengkalai, hingga persoalan sampah yang tak kunjung tertangani, terlebih menjelang Lebaran.

“Sudah 5 tahun hancur, jalan rusak, sampah menumpuk, sekarang THR cuma Rp300 ribu,” tulis komentar lain dengan nada kecewa.

 

Bahkan, sebagian warganet mulai mendorong agar persoalan ini dibawa ke ranah hukum jika benar ditemukan adanya pelanggaran. Dugaan pemotongan, manipulasi tanda tangan, hingga indikasi penyimpangan anggaran menjadi isu yang terus bergulir liar di ruang publik.

Namun di tengah derasnya tudingan, ada pula yang mencoba memberi perspektif berbeda dengan mengingatkan bahwa pembayaran THR bagi aparatur pemerintah memiliki dasar aturan tertentu, termasuk kemungkinan sistem proporsional sesuai masa kerja.

Meski begitu, satu hal yang tak terbantahkan: kepercayaan publik sedang diuji.

Gelombang kritik ini menjadi sinyal keras bahwa masyarakat menuntut transparansi, kejelasan, dan pertanggungjawaban dari pihak terkait.

Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi yang mampu meredam polemik. Jika tidak segera dijelaskan secara terbuka, isu ini berpotensi berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih besar di Kota Metro.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *