Bandar Lampung — Sekat kekuasaan runtuh di Lapangan Futsal Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Bandar Lampung, Jumat (9/1/26). Usai senam pagi, Kepala Lapas Ike Rahmawati tidak beranjak pergi. Ia justru duduk sejajar, menyantap makanan yang sama, dan berbaur langsung bersama ratusan warga binaan.
Momen sederhana namun sarat makna itu menjadi simbol nyata pendekatan humanis yang kini ditegakkan di balik tembok pemasyarakatan. Tidak ada jarak atasan dan bawahan, tidak ada seragam yang membedakan. Yang ada hanyalah kebersamaan dalam suasana kekeluargaan.
Di tengah santap pagi yang hangat dan penuh canda, Kalapas Ike Rahmawati menyampaikan pesan yang lugas dan menyentuh. Ia menegaskan bahwa lapas bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan “rumah sementara” yang harus dijaga bersama.
“Hari ini kita duduk sama rendah, makan makanan yang sama. Tidak ada sekat. Ini bukti bahwa kita adalah satu keluarga besar. Saya ingin setiap warga binaan merasa dimanusiakan dan dihargai,” ujar Ike Rahmawati di hadapan warga binaan.
Namun, di balik pendekatan persuasif tersebut, terselip pesan tegas yang tidak bisa ditawar. Ike mengingatkan bahwa rasa kekeluargaan juga berarti tanggung jawab moral untuk menjaga ketertiban dan keamanan lapas.
“Karena kita adalah keluarga, dan lapas ini rumah kita saat ini, tidak ada anggota keluarga yang ingin merusak rumahnya sendiri. Keluarga tidak akan melanggar aturan di rumahnya. Mari kita jaga rumah ini, patuhi aturan, dan saling menjaga seperti saudara,” tegasnya, disambut tepuk tangan panjang warga binaan.
Pendekatan humanis yang dibalut ketegasan ini menjadi strategi pembinaan yang menempatkan kesadaran sebagai kunci utama. Kepatuhan tidak lagi dibangun atas dasar ketakutan, melainkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.
Lapas Kelas I Bandar Lampung pun menunjukkan bahwa ketertiban dapat tumbuh dari sentuhan kemanusiaan bahwa disiplin paling kuat adalah yang lahir dari hati.







