Metro — Di tengah gelombang ketidakpastian global yang kian mengguncang dunia, suara tegas datang dari Ketua Pendekar Banten Kota Metro sekaligus tokoh Silat Seni Debus Surosowan Provinsi Lampung, H. Tb. Ismail S, SH. Ia mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tidak membutuhkan narasi pesimis yang melemahkan, melainkan penguatan persatuan nasional yang nyata.
Kepada media jejakperistiwa.online menurut Ismail, dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Konflik geopolitik seperti perang Rusia–Ukraina hingga meningkatnya ketegangan di jalur energi strategis seperti Selat Hormuz menjadi bukti bahwa situasi global tengah memasuki fase krisis multidimensi energi, pangan, hingga stabilitas keuangan.
“Ini fakta global. Tapi yang jadi persoalan, negara-negara besar justru memperkuat konsolidasi internal mereka. Sementara di dalam negeri, kita malah disuguhi narasi seolah Indonesia di ambang krisis,” tegas Ismail, Kamis, 9 April 2026.
Ia menilai, maraknya narasi krisis tanpa dasar data bukan hanya keliru, tetapi berbahaya dan berpotensi merusak stabilitas nasional. Bahkan, menurutnya, isu-isu tersebut kerap dibumbui dengan wacana politik ekstrem yang bisa memecah belah masyarakat.
“Jangan main-main dengan persepsi publik. Dalam ekonomi modern, persepsi adalah realitas. Ketika kepercayaan runtuh, investasi tertahan, konsumsi melemah, dan ekonomi bisa goyah. Kalau kita terus menyebarkan ketakutan tanpa dasar, kita sendiri yang menghancurkan pondasi bangsa ini,” ujarnya tajam.
Ismail menegaskan, fakta justru menunjukkan kondisi yang jauh lebih kuat. Hingga 31 Maret 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini, kata dia, menjadi bukti bahwa pondasi fiskal Indonesia tetap kokoh meski diterpa tekanan global.
Tak hanya itu, kebijakan pemerintah yang menahan kenaikan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun juga dinilai sebagai langkah strategis yang berpihak pada rakyat, terutama dalam menjaga daya beli di tengah gejolak harga energi dunia.
“Ini bukan sekadar kebijakan ekonomi. Ini bukti negara hadir. Negara tidak membiarkan rakyat menanggung beban global sendirian,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Ismail mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang melemahkan.
“Indonesia tidak sedang runtuh. Yang kita butuhkan hari ini adalah persatuan, kepercayaan, dan kesadaran bersama untuk menjaga negeri ini tetap kuat di tengah badai global,” pungkasnya.







